Peduli Lupus

Bagi yang ingin mengirimkan sumbangan / donasi dapat mentransfer ke : Bank BCA Cabang Vila Melati Mas Serpong a/n Yayasan Lupus Indonesia Acc.No.6050062099

UserOnline

SEHAT BERSAMA LUPUS

Yang dimaksud sehat bagi orang lupus:

Picture1

“AWET SEHAT JAUH LEBIH PENTING DARIPADA AWET MUDA”

pic2

Bergeraklah !!!
Aktivitas fisik yang teratur
Aktivitas sosial yang positif

poto2

Copyofpoto1

BERPIKIR POSITIF
Percaya diri
Sabar & Ikhlas
Menjalankan agama dengan baik
Jadikan segala sesuatu sebagai berkah

“Hidup dalam situasi yang penuh tekanan baik yang disebabkan oleh lingkungan atau diri sendiri mempercepat proses Lupus kita akan menjadi aktif”

* Stres mungkin memiliki kemampuan untuk menghapus kebahagiaan yang kita rasakan .

* Tidak pantas jika kita membiarkan stres menguasai kehidupan kita.

* Stres menghadirkan berbagai kerugian tersendiri.

* Sementara hobi / aktvitas positif justru sangat bermanfaat yang sangat berarti; tinggal kita yang memilih

apa yang akan kita lakukan.

* Memelihara ikan atau berkebun atau apapun

“Kita ibaratkan tubuh kita seperti tumbuhan”

*Tumbuhan tahu bagaimana menghapuskan masa lalunya.

*Regenerasi yang terjadi pada tumbuhan akan terjadi dengan sendirinya secara terus menerus.

*Jika kita menirunya sehingga bisa melepaskan segala bentuk kekecewaan, amarah dan emosi negatif yang lain;

* Maka kita bisa menghadirkan banyak kebahagiaan dalam kehidupan yang bermanfaat bagi kesehatan kita;

* Jika demikian , kita akan sama seperti tumbuhan, kita akan terus tumbuh menjadi sehat, berkembang menuju

cahaya matahari yang terang.

“Kehidupan sebuah tanaman kelihatannya tidak akan pernah berpindah dari tempatnya tumbuh/ berpijak, akan tetapi tanaman tersebut tetap akan terus mengalami perkembangan dan pembaharuan… begitu juga dengan kita… Hal yang sama akan terjadi pada diri kita”

“ Memberikan perhatian kepada orang lain; menjadi relawan; memelihara binatang; memelihara tumbuhan; bersahabat dengan lingkungan; atau apapun akan memberikan manfaat tersendiri bagi kesehatan dan kebahagiaan hati kita.

“ BERIKAN LATIHAN KEPADA HATI DAN PIKIRAN ”

Pola Hidup Sehat Dengan Lupus

Apa Arti Sehat ?

Tentu Anda akan bertanya-tanya, mungkinkah seseorang yang menderita penyakit kronis dapat hidup dengan sehat?  Bagi pasien Lupus, hidup sehat berarti menganut filosofi sehat. Sebab, sehat merupakan pendekatan terhadap kehidupan. Dan langkah pertama untuk mencapainya adalah dengan mengerti apa arti sehat. Gaya hidup yang sehat, menuntut perhatian terhadap tubuh, pikiran dan jiwa. Hidup sehat dengan Lupus, bagi para Odapus seringkali merupakan suatu tantangan berat, tetapi mereka bisa melakukannya dan bermanfaat untuk menghindari risiko kambuhnya penyakit mereka.

Hidup yang sehat dan berkualitas tidak dapat tercapai begitu saja melainkan harus dilatih setiap hari. Oleh karena itu harus ada perencanaan yang matang dan seimbang dengan memperhatikan sudut positip dan realitas potensi Anda. Komitmen ini akan menempat diri Anda untuk mengontrol kehidupan Anda, jadi hidup Anda bukan dikontrol oleh penyakit !

Pikiran Yang Sehat

Para Odapus tidak bertanggung jawab atas penyakitnya, tetapi bertanggung jawab atas reaksi yang mereka keluarkan. Sikap, perasaan dan pikiran mempengaruhi kesehatan seseorang. Pikiran yang berorientasi pada kesehatan adalah yang melihat dunia secara positip. Oleh karena itu untuk hidup yang baik dengan Lupus fokuskan diri Anda pada kemampuan, bukan pada kekurangan Anda.  Apakah anda melihat diri anda sebagai orang yang turut aktif dan bertanggung jawab atas hidup anda atau hanya sebagai korban? Itu merupakan pilihan pribadi anda.

Perencanaan yang matang meliputi komitmen sehari – hari yang dipertimbangkan dengan baik. Pikirkan apa yang perlu dilakukan dan putuskan apakah anda secara fisik mampu melakukannya. Bersikaplah fleksibel. Bila tidak bisa hari ini, tunggu asmpai keesokan harinya. Jangan terlalu memaksakan diri, karena anda bisa diserang kelelahan yang dapat membahayakan. Pikiran yang positip disertai perencanaan yang matang akan memperbesar kemungkinan untuk berhasil.

Sikap, pikiran dan perasaan anda adalah milik Anda 100%  yang dapat diubah dan diarahkan ke hal-hal yang positip. Tidak ada yang mengharuskan Anda menyimpan perasaan takut, bosan, bingung dan tertekan. Anda dapat memutuskan untuk mengambil sikap dan langkah-langkah baru yang sesuai. Hidup Anda adalah pilihan Anda.

Pikiran Yang Sehat

Para Odapus tidak bertanggung jawab atas penyakitnya, tetapi bertanggung jawab atas reaksi yang mereka keluarkan. Sikap, perasaan dan pikiran mempengaruhi kesehatan seseorang. Pikiran yang berorientasi pada kesehatan adalah yang melihat dunia secara positip. Oleh karena itu untuk hidup yang baik dengan Lupus fokuskan diri Anda pada kemampuan, bukan pada kekurangan Anda.  Apakah anda melihat diri anda sebagai orang yang turut aktif dan bertanggung jawab atas hidup anda atau hanya sebagai korban? Itu merupakan pilihan pribadi anda.

Perencanaan yang matang meliputi komitmen sehari – hari yang dipertimbangkan dengan baik. Pikirkan apa yang perlu dilakukan dan putuskan apakah anda secara fisik mampu melakukannya. Bersikaplah fleksibel. Bila tidak bisa hari ini, tunggu asmpai keesokan harinya. Jangan terlalu memaksakan diri, karena anda bisa diserang kelelahan yang dapat membahayakan. Pikiran yang positip disertai perencanaan yang matang akan memperbesar kemungkinan untuk berhasil.

Sikap, pikiran dan perasaan anda adalah milik Anda 100%  yang dapat diubah dan diarahkan ke hal-hal yang positip. Tidak ada yang mengharuskan Anda menyimpan perasaan takut, bosan, bingung dan tertekan. Anda dapat memutuskan untuk mengambil sikap dan langkah-langkah baru yang sesuai. Hidup Anda adalah pilihan Anda.

Tubuh Yang Sehat

Agar dapat berfungsi, tubuh manusia membutuhkan kesegaran jasmani dan makanan bergizi serta pengelolaan stress yang efektif. Berolah raga penting untuk mencegah efek-efek samping yang tidak diinginkan seperti : obesitas, lemah otot dan  kurang tenaga. Selain itu perlu memperbaiki stamina, vitalitas dan rasa percaya diri. Sakit persendian, letih yang berlebihan dan lemah otot sering terjadi pada Odapus yang akan menyebabkan ketidak aktifan fisik dan mengurangi kesegaran jasmani. Karena itu, istirahat yang cukup, penting untuk mengatasi keletihan. Bila penyakit sedang kambuh, sebaiknya waktu istirahat diperpanjang. Tetapi yang sama pentingnya adalah menentukan keseimbangan antara istirahat yanag cukup dan berlebihan. Istirahat yang berlebihan tidak baik untuk otot, tulang dan kesegaran jasmani secara umum.

Kunci keberhasilan untuk mencapai kesegaran jasmani yang ideal adalah :

1. Menemukan aktifitas yang menarik bagi diri anda sendiri.

2. Membuat suatu komitmen untuk pribadi.

3. Menemukan cara untuk memotivasi diri anda.

4. Menyusun daftar hasil – hasil yang dapat dicapai.

5. Mencatat kemajuan anda.

Makanan adalah merupakan bahan bakar yang diperlukan oleh tubuh kita. Untuk itu diperlukan makanan yang bergizi. Bagi pasien Lupus tidak ada diet khusus, selain keseimbangan gizi, secara umum :

1. Makanan yang seimbang dan bergizi ( empat sehat lima sempurna ).

2. Makanan yang belum diproses terlalu banyak, atau diawetkan.

3. Makan dan berolah raga untuk memelihara komposisi tubuh yang ideal.

Mengelola Stress Dengan Efektif

Tiga langkah besar yang dapat dilakukan odapus untuk mengatasi stress :

Berfikir Positif : Odapus yang  mengalami stres karena ia merasa tidak mampu berbuat apa –apa, tidak ada harapan, tidak berguna dan apa – apa yang dilakukannya sia-sia. Cara berfikir pesimis seperti ini justru akan memperburuk keadaan. Cara berfikir positif akan membawa dampak positif bagi kesehatan. Tidak mudah dilakukan, terutama jika odapus sedang berada dalan fase dimana lupusnya sedang aktif, tetapi dengan memfokuskan diri pada hal – hal  yang masih dapat dilakukan, akan jauh lebih baik dan secara emosional lebih positif daripada meratapi hal – hal yang tidak dapat dilakukan lagi.

Mengubah Pola dan Gaya Hidup: Ada tipe – tipe kepribadian tertentu yang lebih mudah sakit daripada tipe kepribadian lain. Orang – orang yang mudah sakit, ternyata cenderung bereaksi negatif terhadap situasi – situasi stres dan mempunyai pola hidup yang tidak sehat. Sedangkan orang yang berkepribadian self healing personality, mempunya ciri-ciri : antusias, secara emosional seimbang, terbuka, bersemangat, rasa ingin tahunya tingi dan optimis. Dengan mengetahui hal ini , sebaiknya odapus berusaha untuk mengubah pola dan gaya hidup, sikap – sikap seperti tertutup, memendam sakit hati atau marah, putus asa, sinis dan sebagainya, sebaiknya ditinggalkan. Odapus hendaknya berusaha mengembangkan kepribadiannya kearah positif.

Belajar mengelola stres : salah satu faktor yang dapat sangat membantu mengelola stres adalah dukungan dari orang lain. Jika sedang mengalami kesulitan atau stres, ungkapkan hal itu pada orang lain. Untuk mengelola stress dengan efektif dapat dilakukan dengan teknik “self-help”.  Lupus berkaitan dengan banyak aspek kehidupan : hubungan suami istri, hubungan dengan keluarga (ibu, bapak dan saudara), teman-teman, sahabat atau siapa saja yang dianggap dapat dipercaya dan dirasakan memberi semangat untuk sembuh serta membangun kepercayaan diri.

Mengelola stress merupakan suatu pekerjaan yang berat bagi pasien Lupus, tetapi orang yang mampu memegang kontrol atas hidupnya, cenderung ia lebih sehat dibandingkan  dengan orang yang pasif dan merasa dirinya sebagai korban tidak berdaya.

Jiwa yang Sehat

Jika seseorang dinyatakan sebagai pasien Lupus, diperlukan waktu khusus untuk bersedih hati karena merupakan penglaman pribadi yang sangat emosional. Pasien Lupus biasanya melalui masa penyangkalan diri, marah, takur, tertekan, tawar menawar dan akhirnya menerima keadaan. Berikan diri anda waktu untuk bersedih, sehingga akhirnya anda dapat menerima dan mendifinisi ulang hidup anda.

Proses tersebut tidaklah gampang, seringkali malahan kesulitan karena kurangnya informasi tentang Lupus. Padahal untuk menghilangkan rasa takut akibat ketidak tahuan, diperlukan pemahaman yang benar tentang penyakit Lupus.

Membangun jiwa yang sehat juga merupakan suatu proses. Kuncinya adalah :

1. Mengambil sikap berfikir yang positif.

2. Menemukan sesuatu diluar diri anda untuk dijadikan fokus hidup anda.

3. Berusaha utnuk selalu berbahagia dalam segala hal.

Pola Hidup Sehat Bagi Odapus

Bagi pasien Lupus diperlukan perubahan pola hidup, pengendalian emosi, pengaturan gizi yang seimbang dan pemakaian obat-obatan yang tepat, pengaturan aktivitas dan waktu istirahat yang tepat ,sebab banyak gejala Lupus muncul apabila penderita terlalu lelah, baik fisik maupun mental.

Nutrisi dan Diet

Tidak ada “diet lupus “ odapus harus maka  makanan yang seimbang  antara sayur buah dan lauk pauk.

Hindari Merokok

Bagi Odapus, merokok dapat memperburuk gejala-gejala raynaud (jari tangan/jari kaki

menjadi biru atau putih ketika demam).

Mengatasi  Kelelahan

Kelelahan adalah masalah yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari – hari. Kita harus belajar untuk menyelingi kegiatan kita dengan istirahat. Kegiatan yang berlebihan dapat membuat lupus menjadi aktif kembali. Karena itu atur kegiatan Anda seimbang dengan waktu istirahat.

Hindari Sinar Matahari

Pada kenyataannya, dua pertiga Odapus mempunyai masalah dengan  radiasi ultra violet A dan B (UVA dan UVB) dari sinar matahari.  Oleh karena itu hindari terkena pantulan sinar matahari langsung, atau gunakan krem pelindung matahari (sunscreen). Lakukan kegiatan-kegiatan Anda pada awal pagi hari atau di sore dan malam hari.

Hindari Suntik Silikon

Bagi kaum perempuan yang menderita Lupus sebaiknya jangan melakukan suntikan dengan bahan silikon untuk bibir, pipi, pembesaran payudara dan penggunaan cat rambut juga tidak boleh.

Olah Raga

Berjalan peregangan, berenang, aerobik low impact dan bersepeda dapat membantu kita tetap bugar dan mencegah penipisan tulan / osteoporosis. Ingat! Harus selalu diselingi istirahat . Hindari olahraga berat seperti angkat beban atau olahraga high impact, karena dapat membuat lupus lebih parah. Kalau dirasakan letih sekali atau tidak enak lebih dari 2 jam setelah olahraga, maka sesi olahraga tersebut harus dikurangi menjadi lebih singkat.

Hindari Depresi

Depresi sering terjadi pada serangan lupus dan penyebab depresi tersebut tidak dapat dipastikan apakah disebabkan karena stress atau perasaan yang timbul dalam diri penderita lupus bahwa mereka adalah “korban” dari penyakit lupus. Pasien Lupus biasanya menyadari bahwa kondisi depresi mungkin disebabkan akibat munculnya penyakit lupus dalam tubuh mereka, atau depresi tersebut akibat penggunaan obat-obatan yang digunakan untuk mengobati lupus. Depresi bisa juga terjadi akibat faktor dan dorongan dalam hidup penderita yang tidak berkaitan dengan lupus.

Definisi Depresi

Depresi secara klinis adalah keadaan yang benar-benar membuat lumpuh, tidak menyenangkan dan berlangsung lama. Hal ini merupakan kondisi kejiwaan yang sering terlihat pada kebanyakan orang (20%) dari perempuan dan 10% dialami oleh laki-laki. Depresi klinis bisa membawa berbagai gejala fisik dan psikis seperti : sedih, murung, terisak-isak (seringkali tanpa sebab), insomnia (kurang tidur), kehilangan selera (atau makan menjadi banyak), rasa khawatir yang berlebihan, gelisah, rasa terganggu, perasaan bersalah, penyesalan yang mendalam, kurang menghargai diri, tidak mampu berkonsentrasi, berkurangnya ingatan dan daya ingat, sering merasa bimbang, hilangnya rasa tertarik terhadap sesuatu yang sebelumnya disukai, lelah, sering sakit kepala, berdebar-debar, berkurangnya kemampuan atau keinginan seks, rasa linu, sakit di sekujur tubuh, tidak mampu mencerna makanan, sembelit atau diare.

Pasien Lupus dianggap mengalami depresi klinis apabila mereka mempunyai perasaan murung, gangguan tidur dan selera makan dalam beberapa minggu menurun – satu atau dua dari gejala tersebut cukup untuk menganggu kehidupan sehari-hari.

Gejala Depresi

Ada 7 gejala yang berkaitan dengan depresi klinis, yaitu:

1. Perasaan gagal.

2. Hilangnya perhatian terhadap lingkungan sosial.

3. Merasa menderita.

4. Berpikir untuk bunuh diri.

5. Merasa tidak nyaman.

6. Tidak mampu memutuskan sesuatu serta menangis berkepanjangan

7. Dua dari tanda kejiwaan yang paling umum dari depresi klinis adalah perasaan putus asa dan

perasaan tidak berdaya.

Penyakit depresi pada SLE seperti disebutkan di atas merupakan ciri yang sangat alami pasien Lupus.

Apa yang menjadi penyebab depresi pada lupus

Tidak ada penyebab tunggal yang menjadi penyebab terjadinya depresi klinis pada lupus. Yang paling sering menjadi penyebabnya adalah curahan emosi yang disebabkan oleh rentetan tekanan dan ketegangan yang berlanjut yang berkaitan dengan penanggulangan penyakit kronis dan kondisi medis.  Penyebab lainnya bisa jadi adalah besarnya pengorbanan dan perasaan kehilangan/kerugian yang dibutuhkan dalam penyesuaian hidup bekelanjutan yang harus dilakukan oleh penderita penyakit kronis.

Berbagai obat-obat seperti steroid boleh jadi menjadi penyebab terjadinya depresi. Akibat terjadinya serangan lupus pada organ tubuh lain (seperti otak, jantung dan ginjal) juga dapat menuju kepada depresi klinis. Banyak faktor yang tidak dikenal dan tidak diketahui (bisa berkaitan dengan lupus atau tidak) bisa jadi menjadi penyebab terjadinya depresi klinis.

Pengobatan depresi pada lupus.

Penyakit depresi pada lupus hanya terjadi dalam waktu singkat dan mereda sendiri dalam beberapa bulan. Beberapa diantara penderita lupus mampu menerima dan bertahan terhadap gejala-gejala utama dari penyakit depresi tanpa mengeluh. Depresi mengakibatkan rasa tertekan dan gelisah – yang dapat memperburuk lupus.  Saat ini sudah tersedia pengobatan yang efektif bagi penyakit kejiwaan dengan cara terapi kejiwaan dan penggunaan obat-obat psychotropik.

Efektifitas obat-obatan ini boleh jadi akan meningkat apabila digunakan dalam kombinasi dengan pengobatan lain.  Pada pasien Lupus dengan penyakit depresi sering terjadi  fungsi mental (cognition/kesadaran) menjadi melambat atau tertutup. Terapi kejiwaan dapat menolong dalam membantu penderita depresi klinis untuk menjalani dan memahami perasaan mereka.

Kesimpulan :

Pola hidup sehat adalah filosofi yang perlu dibangun oleh para Odapus  untuk menumbuhkan sikap hidup yang dapat memperpanjang dan memperkaya hidup. Untuk itu diperlukan perencanaan dan kesiapan dalam diri berdasarkan potensi yang dimiliki. Lalu bagaimana kita mengenali pasien Lupus yang hidup sehat ? Biasanya mereka adalah orang-orang yang terfokus pada bakat dan kemampuan mereka.  Mereka jarang mengungkapkan masa lalu. Karena mereka mampu menerima “hidup baru dengan Lupus”. Bagi mereka, hari esok lebih penting !

Menaklukan Lupus

Seperti halnya ketika kita sedang berpacaran dengan seseorang, tentu butuh waktu tidak sebentar untuk mengenalnya luar-dalam.  Apa, siapa dan bagaimana kepribadiannya?  Begitu juga dengan Lupus – ketika Anda harus “berpacaran” dengan Lupus – Anda harus tahu dari A sampai Z mengenai si Lupus ini.

Hati-hati loh, ternyata si Lupus ini juga bisa “marah”!  Kalau Lupus marah,dia akan menyerang organ yang ada dalam tubuh kita dan si pasien akan mengalami kekambuhan .  Tapi kita juga bisa “meredam” kemarahan Lupus hingga mau berdamai  dengan kita dengan cara hidup sehat ,berfikir positif, tertib dengan sgala aturan pengobatan yang sedang kita jalani.  Karena itu harus ada saling pengertian antara si pasien dan Lupus sehingga tidak membuat Lupus ngambek dan marah yang nantinya akan membuat repot kita.

Namun untuk mencapai sikap saling pengertian ini tidaklah mudah.  Tetapi sesuatu yang terasa berat, bukan mustahil untuk kita lakukan.  Ingatlah  bahwa, “Sesungguhnya di dalam kesulitan selalu ada kemudahan”.   Untuk mencapai jalan kemudahan itu “kunci”nya ada pada diri kita sendiri.

Semua ini tergantung pada diri kita – mau atau tidak menerima “kehadiran Lupus menjadi bagian dari hidup kita?  Jika diri kita terus-menerus “menolak” kehadirannya, bisa ditebak …. Akan terjadi perang antara diri Anda dengan Lupus.  Akibatnya, Lupus akan menyerang bagian tubuh kesana-kemari melampiaskan kemarahannya pada kita.  Kalau sudah begitu siapa yang rugi? Tentu diri kita yang rugi, bukan?  Jadi buat apa kita melawannya? Lebih baik mengenali apa dan bagaimana penyakit Lupus ini agar ia tidak nyerang tubuh kita.  Kita rangkul si Lupus, dia sebagai kekasih hidup kita, tapi sekaligus musuh yang harus kita lawan.

Kenali Gejala Penyakit Lupus Bag .2

Diagnosa

Lupus sistemik adalah penyakit yang sukar didiagnosa, alasannya karena :

¨    merupakan penyakit yang bersifat multi sistem – karena sebelum seseorang didiagnosa menderita lupus.

¨    gejala penyakit ini tidak berkembang dengan cepat. Gejala-gejalanya muncul – hilang dan berkembang seiring perjalanan waktu.

¨    merupakan “peniru ulung” berbagai macam penyakit.

¨    tidak ada tes khusus untuk mendiagnosa penyakit ini. Umumnya seseorang dideteksi terkena penyakit ini berdasarkan hasil tes laboratorium ANA. Meskipun hasil tes ANA positip, tetapi belum tentu ia terkena penyakit lupus.

Lalu bagaimana lupus sistemik bisa didiagnosa?

Untuk menentukan secara umum, ahli medis harus mengumpulkan data dari berbagai sumber dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian dengan menggunakan 11 kriteria lupus dapat dijadikan acuan untuk mendiagnosa lupus, paling tidak harus ditemukan 4 gejala-gejala lupus yang diperkuat dengan hasil pemeriksaan laboratorium yang membuktikan adanya penyakit multi sistem ini. Kalau ternyata salah satu dari kriteria Laboratorium tersebut hasilnya positif, misalnya tes ANA positip dan anemia berat – maka seseorang dapat dinyatakan terkena Lupus.

Dengan catatan Lupus dapat diindikasikan oleh jumlah leukosit yang kurang dari 4.000/mm3, jumlah trombosit kurang dari 100.000/mm3.  Selain diagnosa darah, pasien juga dapat dideteksi kelainan pada ginjal atau sistem kekebalan tubuhnya sebagai indikator Lupus.  Umumnya prevalensi Lupus yang rendah sekitar 40/100.000 – sehingga menyebabkan dokter sering mengalami kesulitan dalam menemui kasus penyakit Lupus.

Dengan diagnosa yang lebih baik, evaluasi dan manajemen penyakit yang digabungkan dengan penggunaan obat-obatan terbukti dapat “meningkatkan” kelangsungan hidup pasien Lupus secara signifikan. Kini sekitar 80 % hingga 90 % penderita lupus dapat hidup lebih dari 10 tahun setelah didiagnosa dan kembali menjalani kehidupannya secara normal kembali.

Kriteria Yang Digunakan untuk mendiagnosa Lupus

Berdasarkan hasil penelitian dari ACR (American College of Rheumatology), yaitu perkumpulan ahli rematik di Amerika menemukan 11 kriteria yang harus dipenuhi bagi penderita Lupus .

Apakah saya terkena Lupus?? YA, apabila memenuhi 4 dari 11 kriteria yang ada :

  • Kriteria pada kulit :

1.   Kemerahan pada bagian pipi kanan dan pipi kiri termasuk hidung

membentuk seperti kupu-kupu (Butterfly rash).

2.   Ruam berwarna kemerahan yang terus meningkat jumlahnya (Discoid rash).

3.   Tidak tahan terhadap sengatan sinar matahari (Sun Sensitivity)

4.   Sariawan tanpa rasa nyeri yang sering hilang dan muncul secara berulang-ulang- terjadi di bagian dalam hidung atau mulut (Oral ulcerations)

  • Kriteria pada Sistemik (bagian dalam organ tubuh) :

5.   Sakit pada persendian- ngilu pada bagian tulang sendi – bisa terjadi pada  beberapa bulan (Arthritis).

6.   terjadi penimbunan pada cairan di selaput dada/paru- pleuritis (Serositis) atau Penimbunan cairan di selaput jantung (Pericardium).

7.   Kebocoran protein di air seni pada kadar tertentu (Kidney disorder).

8.   Terjadi kejang-kejang atau gangguan kejiwaan- psikosis (Neurologic disorder).

  • Kriteria pada hasil pemeriksaan Laboratorium :
  1. Kurangnya jumlah sel darah putih atau trombosit atau kurangnya sel darah merah (Blood abnormalities).

10.  Ditemukannya antibodi terhadap DNA atau ditemukannya sel bentuk khusus (sel LE) atau ditemukannya hasil tes positif palsu pada sifilis (Immunologic disorder)

(sebenarnya penderita tidak mengalami sakit sifilis, tetapi hasil tes darah positif).

11. Hasil tes ANA positif terhadap inti sel tubuh manusia. Positif antibodi ANA (anti nuclear antibody).

Pemeriksaan Laboratorium

Karena banyaknya gejala dari Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang mirip dengan penyakit lain membuat penyakit Lupus sulit untuk didiagnosa.  Pelaksanaan diagnosa dilakukan karena faktor :

1.   Sejarah kesehatan pasien secara keseluruhan.

2.   Gejala-gejala yang dialami pasien.

3.   Analisis terhadap hasil yang diperoleh dari pemeriksaan rutin laboratorium dan beberapa pemeriksaan khusus yang berkaitan dengan status kekebalan.

Sebelum membuat diagnosa SLE pada pasien harus melihat riwayat klinis dari gejala-gejala penyakit lain yang mengarah pada kecurigaan terhadap SLE.  Jika seseorang memiliki beberapa gejala seperti disebut diatas, maka dokter akan mencari bukti-bukti keberadaan “auto-antibodi” pada tubuh pasien.  Pemeriksaan laboratorium yang dapat membuktikan secara tepat : apakah seseorang terkena penyakit Lupus atau tidak.

Ada beberapa pemeriksaan laboratorium yang dapat membantu dokter untuk membuat diagnosa SLE, antara lain :

1. Pemeriksaan anti-nuclear antibodi (ANA)

yaitu : pemeriksaan untuk menentukan apakah auto-antibodi terhadap inti sel sering

muncul di dalam darah.

2. Pemeriksaan anti ds DNA ( Anti double stranded DNA ).

yaitu : untuk menentukan apakah pasien memiliki antibodi terhadap materi genetik di

dalam sel.

3. Pemeriksaan anti-Sm antibodi

yaitu : untuk menentukan apakah ada antibodi terhadap Sm (protein yang ditemukan

dalam sel protein inti).

4. Pemeriksaan untuk mendeteksi keberadaan immune complexes (kekebalan) di dalam darah

5. Pemeriksaan untuk menguji tingkat total dari serum complement

(kelompok protein yang dapat terjadi pada reaksi kekebalan) dan pemeriksaan untuk

menilai tingkat spesifik dari C3 dan C4 – dua jenis protein dari kelompok pemeriksaan

ini.

6. Pemeriksaan sel LE (LE cell prep)

yaitu : pemeriksaan darah untuk mencari keberadaan jenis sel tertentu yang

dipengaruhi membesarnya antibodi terhadap lapisan inti sel lain – pemeriksaan ini

jarang digunakan jika dibandingkan dengan pemeriksaan ANA, karena pemeriksaan

ANA lebih peka untuk mendeteksi penyakit Lupus dibandingkan dengan LE cell prep.

7. Pemeriksaan darah lengkap, leukosit, thrombosit

8. Urine Rutin

9. Antibodi Antiphospholipid

10. Biopsy Kulit

11. Biopsy Ginjal

  • Hasil pemeriksaan ANA positif pada hampir semua pasien dengan sistemik lupus – dan ini merupakan pemeriksaan diagnosa terbaik yang ada saat ini untuk mengenali sistemik lupus.
  • Hasil pemeriksaan ANA negatif merupakan bukti kuat bahwa lupus bukanlah penyebab sakitnya orang tersebut — walaupun sangat jarang terjadi dimana SLE muncul tanpa ditemukannya ANA.

Kemungkinan seseorang mempunyai pemeriksaan ANA positif akan meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Pola dari hasil pemeriksaan ANA sangat membantu dalam menentukan jenis penyakit auto imun yang muncul dan menentukan program pengobatan seperti apa yang cocok bagi seorang pasien Lupus. Hasil pemeriksaan ANA bisa positif pada banyak keadaan, oleh karena itu dalam pemeriksaan ANA harus di dukung dengan catatan kesehatan pasien serta gejala-gejala klinis lainnya. Karena itu apabila hasil tes laboratorium ANA positif (hanya ANA saja) tidak cukup untuk mendiagnosa lupus. Lain halnya jika ANA negatif – merupakan bantahan terhadap lupus akan tetapi tidak sepenuhnya mengesampingkan adanya penyakit tersebut.

Bagaimanapun juga jika hasil pemeriksaan ANA positif,  bukanlah bukti keberadaan Lupus, karena hasil pemeriksaan juga bisa positif terhadap :

  • orang – orang dengan penyakit jaringan connective lainnya.
  • pasien yang sedang diobati dengan obat-obatan tertentu, misal menggunakan obat prokrainamid, hidralazin, isoniazidklorpromazin. dan
  • orang-orang dengan kondisi selain dari lupusseperti skeloderma, sjogren’s syndrome,rematik arthritis, penyakit kelenjar gondok (thyroid), penyakit hati (liver)

Aku & Lupus , Tiara S

Kenali Gejala Penyakit Lupus Bag.1

Bagaimana mengenali Lupus??

  • Pengenalan dini sulit.
  • Tingkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Lupus!
  • Gejala / tanda : Umum (tidak khas), Khusus ( sesuai dengan organ tubuh yang terkena dan pemeriksaan penunjang).

Gejala Awal Lupus

Pada tahap awal – umumnya pasien tidak mengetahui apa nama dari penyakit yang menyerang tubuhnya.  Biasanya pasien (karena ketidak tahuannya itu) berobat ke beberapa dokter, tergantung gejala yang muncul. Jika suhu tubuhnya panas tinggi selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan— ia akan mendatangi dokter penyakit dalam, lantas (karena tanpa pemeriksaan medis secara akurat) dokter memberikan obat antibiotik – padahal penyakit yang di derita si pasien belum tentu karena infeksi.

Lalu, pada kasus lain ada pasien Lupus yang awalnya merasakan persendianya terasa sakit – akhirnya ia berobat ke dokter ahli rematik.  Atau pasien yang mengalami gejala sariwan bekepanjangan dan sulit sembuh, atau ada yang ditandai dengan kulitnya yang langsung memerah bila terkena sinar matahari langsung, timbul bercak-bercak merah di bagian pipi, hidung dan radang ginjal, radang jantung atau radang otak.  Komplikasi bisa menjadi tanda awal dari penyebab dari Lupus. Pada kasus lain, obat-obatan yang digunakan untuk pengobatan suatu penyakit dapat menjadi pemicu timbulnya gejala.

Pada sebagian perempuan , gejala awal dan tanda-tanda lupus terjadi selama masa kehamilan. Sedangkan pada perempuan lain, gejala awal dari tanda-tanda lupus muncul begitu terjadi kehamilan. Namun, ada pula sebagian pasien Lupus yang tidak dapat mengingat atau mengindentifikasikan faktor-faktor khusus tertentu yang menyebabkan terjadinya serangan Lupus. Jadi kesimpulannya, banyak faktor yang tidak saling terkait yang menjadi pemicu serangan dari penyakit lupus sistemik.

Banyaknya organ tubuh yang diserang oleh Lupus dapat, membuat dokter sukar menetapkan pada kunjungan pertama. Karena gejala Lupus menyerupai gejala penyakit lain. Kadang-kadang gejala tersebut samar-samar, bisa datang dan juga bisa menghilang sehingga pada gejala awal penyakit Lupus sulit untuk didiagnosa.  Umumnya diagnosa dilakukan setelah dokter secara bertahap mempelajari riwayat kesehatan pasien,  kemudian digabungkan dengan analisa terhadap hasil yang diperoleh dari pemeriksaan laboratorium  serta beberapa kali pemeriksaan sehubungan dengan status kekebalan (immune status) dan belum ada pemeriksaan laboratorium tunggal yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang terserang penyakit Lupus atau tidak.

Gejala-Gejala Penyakit Lupus

Secara umum gejala pada penyakit Lupus sangat beragam, selain berupa bercak-bercak kemerahan pada tubuh – terutama setelah terkena sinar matahari, penderita sering mengeluh lemah,kelelahan yang berlebihan dan beragam gejala lain.

Gejala penyakit Lupus di bagi menjadi dua, yaitu gejala secara umum dan gejala pada organ terserang.   Pada orang yang bukan pasien Lupus akan mendapati satu gejala saja. Sedangkan pada Odupus, akan mengalami beberapa gejala  yang jenisnya berbeda dengan pasien Lupus lain. Tabel dibawah ini gejala – gejala atau simptom pada orang yang terkena Lupus :

Gejala / Simptom Presentase

  • Rasa sakit pada sendi (arthralgia).                                                 95%
  • Demam hampir – lebih dari 38 derajat celcius.                              90%
  • Bengkak pada sendi ( Arthritis)                                                     90%
  • Penderita sering merasa lemah, kelelahan                                     81%

(fatique) berkepanjangan.

  • Ruam pada kulit                                                                             74%
  • Anemia (kekurangan darah)                                                          71%
  • Gangguan ginjal .                                                                           50%
  • Sakit di dada jika menghirup nafas dalam ( pleurisy)                   45%
  • Ruam berbentuk kupu-kupu melintang pada pipi dan hidung.     42%
  • Sensitif terhadap cahaya sinar matahari (photosensitivity).          30%
  • Kerontokan rambut.                                                                       27%
  • Gangguan abnormal clotting darah                                                20%
  • Fenomena Raynaud’s (jari menjadi putih/biru saat dingin)          17%
  • Stroke                                                                                            15%
  • Sariawan (ulcers) pada rongga mulut dan hidung.                        12 %
  • Kehilangan selera makan.                                                           >60%

Gejala dan Tanda yang biasa terjadi pada Lupus

  • Sakit pada tulang dan sendi.
  • Nyeri sendi, sendi membengkak.
  • Demam atau panas tinggi bukan karena infeksi.
  • Cepat lelah, lesu, lemah.
  • Ruam kulit, bercak merah pada kulit bersisik dan gatal, rambut rontok.
  • Anemia ( kurang darah ).
  • Penurunan berat badan.
  • Nyeri waktu nafas
  • Ujung jari berwarna kebiruan / pucat.
  • Sariawan..
  • Kejang.
  • Sakit kepala.
  • Sensitif terhadap sinar matahari.
  • Gangguan daya ingatan.

Aku & Lupus , Tiara . S.

Apa Penyakit Lupus Itu?

Bukan Penyakit Keturunan

Seabad lalu, penyebab penyakit ini diperkirakan adalah karena faktor keturunan, selain faktor  hormon dan lingkungan (seperti stres, sinar matahari, infeksi, makanan dan obat-obatan). Namun, kini disimpulkan para ahli bahwa penyebab dari penyakit Lupus adalah bukan merupakan penyakit keturunan!

Penyakit Lupus tidak diturunkan, hanya 5-10% pasien Lupus yang diturunkan dalam keluarga. Sebagian besar (90%) pasien Lupus tidak mempunyai saudara ataupun orangtua yang juga sakit Lupus.

Lebih Banyak Dialami Perempuan

Penyakit Lupus menyerang hampir 90% perempuan. Kini tercatat kurang lebih sekitar 5 juta pasien Lupus tersebar di seluruh dunia dan setiap tahunnya bertambah sebanyak 100.000 pasien baru.

Data di Amerika menunjukkan angka kejadian penyakit Lupus Ras Asia lebih tinggi dibandingkan ras Kaukasia.  Di Indonesia jumlah penderita Lupus yang tercatat sebagai anggota YLI 789 orang, tetapi bila kita melakukan pendataan lebih seksama jumlah pasien Lupus di Indonesia akan lebih besar dari Amerika ( 1.500.000 orang).

Siapa saja yang bisa terserang Lupus? Lupus seringkali disebut  “ penyakit wanita “ meskipun faktanya laki- laki juga ada yang terkena.   Lupus dapat diturunkan pada semua umur, namun sebagian besar pasien ditemukan pada perempuan usia produktif.  Sembilan dari 10 orang dengan Lupus (Odapus) adalah  wanita. Alasan mengapa Lupus lebih banyak menyerang kaum perempuan produktif?  Hingga saat ini belum diketahui pasti apa penyebabnya.  Jumlah terbesar penderitanya dialami oleh perempuan di usia belasan tahun (yang sudah mendapatkan menstruasi)

Selain itu penyakit Lupus juga berhubungan dengan “hormon estrogen” yang banyak di produksi oleh perempuan. Tapi, secara pasti, penyakit Lupus ini (jarang) ditemukan pada anak-anak usia balita atau wanita menopouse.  Pada perempuan usia subur dengan laki-laki perbandingannya adalah : 10 : 1 dan perbandingan ini akan mengecil pada kelompok perempuan usia menopuse.

Karena dialami oleh perempuan di usia subur, penyakit Lupus ini dapat menganggu kehamilan (terjadinya abortus, gangguan perkembangan janin/bayi mati sebelum dilahirkan). Terdapat peningkatan risiko dari aktivitas penyakit selama  3 atau 4 minggu setelah kehamilan.. Ada pula penyakit Lupus yang baru dijumpai pada saat kehamilan atau setelah melahirkan. Tetapi hal ini bukan berarti kaum perempuan harus ketakutan untuk mendapatkan keturunan.  Kesuburan perempuan dengan Lupus tidak berpengaruh edngan penyakitnya. Data YLI menyebutkan banyak Odapus yang bisa memperoleh keturunan dengan keadaan bayi dalam kondisi sehat.

Bagi kaum perempuan yang mengalami Lupus diperbolehkan untuk hamil, memperoleh keturunan, di bawah pengawasan dokter secara penuh. Para dokter umumnya akan menganjurkan bagi pasien Lupus yang berat, apabila sudah memiliki anak sebaiknya tidak memiliki anak lagi selama masa kehamilan harus selalu kontrol secara teratur ke dokter ahli pemerhati Lupus untuk Lupusnya dan dokter kandungan untuk kehamilannya.

Masih Misterius

Penyakit Lupus sampai sekarang ini masih misterius.  Walaupun penyakit ini sudah terdeteksi selama 150 tahun lebih tapi hingga kini belum diketahui secara pasti apa penyebabnya dan cara penyembuhan secara tuntas. Selama ini upaya yang dilakukan para tim medis  – hanya sebatas untuk menekan – mengurangi gejala lupus . Bahkan rumah sakit yang khusus menangani penyakit ini belum tersedia- masih sebatas rumah sakit atas rujukan dokter setempat. Sehingga Lupus dianggap sebagai penyakit autoimmune disease yang paling menonjol beberapa tahun belakangan ini.

Definisi Lupus

Lupus adalah penyakit kronik  / menahun, merupakan penyakit daya tahan tubuh atau disebut penyakit “autoimun” artinya kekebalan / perlindungan (immune) terhadap jaringan tubuh sendiri ( auto ). Pada manusia normal, sistim kekebalan tubuh akan membuat antibodi yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari berbagai macam virus, kuman, atau bakteri dan benda – benda asing lainnya.Benda – benda asing ini disebut antigen. Pada penyakit autoimune seperti Lupus, sisitim kekebalan kehilangan kemampuan untuk melihat perbedaan antara substansi asing dengan sel dan jaringan tubuh sendiri. Pada Lupus produksi  antibodi ini terlalu berlebihan.  Sayangnya saking berlebihan antibodi ini tidak “menyerang” pada “kuman atau musuhnya” tetapi justru “menyerang” sistim kekebalan sel dan jaringan tubuh sendiri. Antibodi seperti ini disebut “auto-antibodi” bereaksi dengan antigen “sendiri” membentuk kompleks imun .Kompleks imun yang terdapat dalam jaringan  dapat menyebabkan peradangan, luka pada jaringanan rasa sakit. Sistim kekebalan ini tidak mengenal mana teman mana lawan,.

Lupus dikatakan “great imitator”(peniru yang ulung) / “mimikri” (menyerupai penyakit lain), bukan satu jenis penyakit, amat heterogen. Gejala Lupus dapat terjadi dari ringan sampai berat. Gejala pada sebagian Odapus cukup ringan. Sedangkan bagi yang lainnya, lupus bisa menjadi masalah serius dan dapat berakibat fatal  bahkan mengancam kelangsungan hidupnya

Penyebab Penyakit Lupus

Penyebab munculnya penyakit Lupus ini hingga kini masih belum diketahui secara pasti “apa penyebab”nya.  Namun yang pasti gejala – gejala umum dari penyakit lupus ini bervariasi, mulai dari gejala yang ringan (hanya mengenai bagian kulit dan persendian) sampai pada gejala serius yang dapat mengancam jiwa manusia jika lupus menyerang organ vital. Karena itu kenalilah semenjak dini bila anda merasakan adanya keluhan dari gejala – gejala umum yang terdapat penyakit lupus.

Perlu diingat bahwa Lupus adalah “Bukan” penyakit menular, bukan penyakit AIDS, bukan penyakit kelamin serta bukan penyakit kanker. Lupus adalah penyakit kelainan antibodi .

Pada penyakit Lupus :

n Sistem kekebalan tubuh (zat antibodi-nya) justru menyerang diri sendiri dan menjadi perusak sehingga menimbulkan gejala Lupus. Dengan kata lain, penyakit Lupus ini disebut sebagai autoimun = sistem kekebalan tubuh tidak mengenal mana teman atau lawan. ( Kelebihan antibodi)

n Bukan jenis penyakit virus, kuman atau bakteri.

n Faktor penyebab munculnya gejala Lupus hingga kini belum diketahui dengan pasti.

n Lebih banyak perempuan dibandingkan dengan laki-laki.

n Sebagian besar ditemukan pada perempuan usia produktif.

n Apabila terjadi infeksi, masih bisa diobati.

n Bukan jenis penyakit menular.

Jenis-Jenis Penyakit Lupus

Jenis-jenis penyakit Lupus ada 3 yaitu :

1.  Discoid Lupus – organ tubuh yang terkena hanya bagian kulit!

Dapat dikenali dari ruam yang muncul dimuka, leher dan kulit kepala, ruam di sekujur        tubuh, berwarna kemerahan, bersisik, kadang gatal. Pada Lupus jenis ini dapat didiagnosa dengan menguji biopsi dari ruam. Pada discoid lupus hasil biopsi akan terlihat ketidak normalan yang ditemukan pada kulit tanpa ruam. Dan, jenis ini pada umumnya tidak melibatkan organ-organ tubuh bagian dalam. Oleh karena itu, tes ANA (pemeriksaan darah yang digunakan untuk mengetahui keberadaan sistemik lupus – hasilnya bisa saja bersifat negatif pada pasien pengidap discoid lupus. Akan tetapi pada sebagian besar pasien dengan jenis discoid lupus – hasil pemeriksaan ANA-nya positif, tetapi masih dalam tingkatan atau titer yang  rendah.

10% pasien Discoid dapat menjadi SLE.

2.  Drug-Induced Lupus – lupus yang timbul akibat efek samping obat.

Pada lupus jenis ini baru muncul setelah odapus menggunakan jenis obat tertentu dalam jangka waktu yang panjang. Ada 38 jenis obat yang dapat menyebabkan Drug Induced. Salah satu contoh faktor yang mempengaruhi DIL adalah akibat penggunaan obat-obatan hydralazine( untuk mengobati darah tinggi ) dan procainamide ( untuk mengobati detak jantung yang tidak teratur ). Tapi tidak semua penderita yang menggunakan obat-obatan ini akan berkembang menjadi drug induced Lupus, hanya sekitar 4% orang-orang yang menggunakan obat-obatan tersebut yang akan berkembang menjadi drug induced dan gejala akan mereda apabila obat-obatan tersebut dihentikan.Gejala dari drug-induced lupus (DIL) serupa dengan sistemik lupus. Umumnya gejala akan hilang dalam jangka waktu 6 bulan setelah obat dihentikan. Pemeriksaan Tes AntiNuclear Antibody ( ANA ) dapat tetap positif.

3. Sistemic Lupus Erythematosus.

Lupus ini lebih berat dibandingkan dengan discoid lupus – karena gejalanya

menyerang banyak organ tubuh atau sistim tubuh pasien Lupus.  Pada sebagian

orang hanya kulit dan sendinya saja yang terkena , akan tetapi pada sebagian pasien

lupus lainnya menyerang organ vital organ:  Jantung – Paru, Ginjal, Syaraf, Otak.

Namun perlu dicatat : Umumnya tidak ditemukan adanya dua orang odapus

terkena Sistemik lupus dengan gejala yang persis sama.

Lupus sistemik bisa masuk periode  dimana, jika ada, gejalanya membaik (remisi),

dan dilain waktu penyakit dapat menjadi lebih aktif ( flare up ).Gejala dari yang paling

ringan sampai yang paling berat.

Faktor Penyebab Lupus

Faktor penyebab terserangnya seseorang terhadap penyakit Lupus hingga kini belum diketahui, tetapi pengaruh lingkungan dan faktor genetik, hormon diduga sebagai penyebabnya.

Faktor Genetik : Tidak diketahui gen atau gen – gen apa yang menjadi penyebab penyakit tersebut, 10% dalam keluarga Lupus mempunyai keluarga dekat ( orang tua atau kaka adik ) yang juga menderita lupus, 5% bayi yang dilahirkan dari penderita lupus terkena lupus juga, bila kembar identik, kemungkinan yang terkena Lupus hanya salah satu dari kembar tersebut.

Faktor lingkungan sangat berperan sebagai pemicu Lupus, misalnya : infeksi, stress, makanan,  antibiotik (khususnya kelompok sulfa dan penisilin), cahaya ultra violet (matahari) dan penggunaan obat – obat tertentu.

Faktor hormon, dapat menjelaskan mengapa kaum perempuan lebih sering terkena penyakit lupus dibandingkan dengan laki-laki.  Meningkatnya angka pertumbuhan penyakit Lupus sebelum periode menstruasi atau selama masa kehamilan mendukung keyakinan bahwa hormon, khususnya ekstrogen menjadi penyebab pencetus penyakit Lupus. Akan tetapi  hingga kini belum diketahui jenis hormon apa yang menjadi penyebab besarnya prevalensi lupus pada perempuan pada periode tertentu yang menyebabkan meningkatnya gejala Lupus masih belum diketahui.

Lupus sering kali disebut sebagai “penyakit perempuan”, meskipun faktanya ada juga  laki-laki yang terkena Lupus.  Lupus dapat terjadi pada semua usia anak, dewasa.

Walaupun terjadinya penyakit Lupus10-15 kali lebih banyak terjadi pada perempuan usia produktif dibandingkan dengan laki-laki.  Gejala penyakit Lupus pada perempuan dan laki-laki pada umumnya adalah sama. Tetapi risiko timbulnya Lupus pada perempuan dewasa usia subur 8 kali lebih tinggi bila dibandingkan dengan laki-laki dewasa.  Beberapa data menunjukkan insiden penyakit Lupus ras Asia lebih tinggi dibandingkan ras Kaukasia.

Faktor sinar matahari adalah salah satu kondisi yang dapat memperburuk gejala Lupus. Diduga oleh para dokter bahwa sinar matahari memiliki banyak ekstrogen sehingga mempermudah terjadinya reaksi autoimmune.  Tetapi bukan berarti bahwa penderita hanya bisa keluar pada malam hari. Pasien Lupus bisa saja keluar rumah sebelum pukul 09.00 atau sesudah pukul 16.00 dan disarankan agar memakai krim pelindung dari sengatan matahari.  Teriknya sinar matahari di negara tropis seperti Indonesia, merupakan faktor pencetus kekambuhan bagi para pasien yang peka terhadap sinar matahari dapat menimbulkan bercak-bercak kemerahan di bagian muka.kepekaan terhadap sinar matahari (photosensitivity) sebagai reaksi kulit yang tidak normal terhadap sinar matahari.

Empat puluh hingga 60% pasien SLE adalah rentan terhadap photosensitive. Terkena cahaya matahari secara berlebihan diperkirakan sebagai faktor pemicu serangan dari penyakit SLE dan memperburuk cutaneous (discoid) lupus.

Pasien Lupus, harus menyadari bahwa sinar matahari adalah “musuh” bagi mereka. Gaya hidup yang sensitif akan memperkecil tekena dari sengatan sinar UV yang berlebihan. Aktivitas di luar gedung sebaiknya diselesaikan sebelum jam 10 pagi dan setelah jam 2 siang – saat cahaya UV kurang begitu menyengat. Pasien Lupus sebaiknya tidak berjemur atau berpanas-panas dan tidak membuat kulitnya menjadi coklat terbakar sinar matahari.

Karena itu gunakan pelindungmatahari yang dapat menghambat cahaya matahari (sunblock) dan yang menahancahaya matahari (sunscreens).  Penghambatcahaya matahari (sunblock) .

Aku & Lupus, Tiara.S

Lupus: Dasar untuk Hidup Lebih Baik

Anda terdiagnosa Lupus ?

  • Apabila dokter menyatakan bahwa anda terkena systemic lupus erythematosus, kamu mungkin merasa takut, bingung dan memiliki banyak sekali pertanyaan.
  • Lupus dapat muncul dalam bentuk yang sangat ringan sampai yang sangat serius namun kesemuanya itu harus ditangani oleh dokter. Contoh tipe dokter yang dapat menangani pasien Lupus adalah Rheumatologist.
  • Penting untuk dingat walaupun belum ada pengobatannya, ada hal yang dapat dilakukan untuk membantu penyakit ini agar dapat terkontrol.

Pastikan bahwa itu memang Lupus!!

Hanya karena seseorang memiliki antinuclear antibody test (ANA) yang positif, tidak berarti mereka terkena Lupus. TES ANA BUKAN LUPUS TEST. Tes ini hanya menunjukkan beberapa indikasi pada dokter. ANA positif dapat berarti:
Sindrom Sjögren’s, rheumatoid arthritis, scleroderma, kanker (melanoma, dada, paru-paru, ginjal, ovarium dl), infeksi, fibromyalgia, kehamilan, multiple sclerosis, mononucleosis, malaria, subacute bacterial endocarditis, penyakit otoimmune thyroid, Hashimoto’s thyroiditis, penyakit Graves, penyakit otoimmune liver, hepatitis, penyakit alcoholic liver, primary biliary cirhosis, tuberculosis, polymyositis, juvenile diabetes, penyakit Addison, vitiligo, pernicious anemia, glomerulonephritis, pulmonary fibrosis, pulmonary hypertension, ulcerative colitis, leprosy, juga pada manula, mereka yang memiliki sejarah keluarga dengan rheumatik & pada orang yang meminum beberapa jenis obat tertentu.

  • ANA yang secara lemah positif juga ada pada sekitar 20% populasi yang tidak memiliki penyakit apapun.
  • Sekitar 30-40% saudara langsung (saudara, orangtua dan anak) dari orang dengan lupus (Odapus) dapat pula memiliki ANA positif dengan tidak menunjukkan gejala apapun.
  • 1/10 orang dengan ANA positif menderita SLE.

Apa saja jenis Lupus itu? Terdapat empat tipe jenis Lupus :

  1. Cutaneous (Discoid)- Tipe Lupus ini hanya menyerang pada kulit berupa ruam. Ruam ini bisa terdapat dimanapun, terutama di muka, leher dan kulit kepala. Ruam ini bisa berwarna merah, bersisik, dan kadang kala gatal. Tipe lupus ini tidak mempengaruhi bagian tubuh bagian dalam manapun. Hasil tes darah, seperti antinuclear antibody test (ANA) biasanya negatif ataupun rendah positif. Sekitar 10% dari pasien dengan Lupus discoid dapat menjadi lupus systemic.
  2. Systemic- Lupus Systemic biasanya lebih serius dibandingkan dengan lupus diskoid. Hampir separuh dari pasien lupus akan menderita lupus yang menyerang organ tubuh yang vital (hati, paru-paru, ginjal, penyakit Crohn’s, psoriasis, pemphigus, lever atau darah secara serius) dan separuh lagi akan menyerang organ yang tidak vital (ruam, lelah, demam, gatal).
  3. Drug Induced (DIL)- Lupus tipe ini muncul akibat memakan beberapa jenis obat tertentu. Ada sekitar 70 macam jenis obat yang dapat menyebabkan DIL. Gejalanya serupa dengan lupus systemic tetapi biasanya menghilang ketika obat dihentikan. Umumnya gejala akan hilang dalam waktu 6 bulan. Bagaimanapun juga tes antinuclear antibody (ANA) dapat tetap positif selama tahunan.
  4. Neonatal lupus – tipe ini biasanya dideteksi pada janin ataupun pada bayi yang baru lahir. Umumnya menyerang kulit, darah dan bahkan organ tubuh seperti jantung dan lever.

Bagaimana kita bisa menolong diri kita sendiri ?

Beware of SunHati-hati di bawah sinar matahari: Banyak orang dengan Lupus (ODAPUS) bermasalah dengan sinar ultraviolet dari matahari.Bagaimana kita bisa menolong diri kita sendiri ? Gunakan tabir surya dengan SPF paling tidak 15, gunakan baju yang tertutup, & jauhi matahari dari jam 10:00 – 16:00.

Makan sehatMakan sehat & seimbang: Tidak ada “diet lupus.” Odapus harus makan makanan yang seimbang yang rendah lemak , gula & garam, tinggi serat. Yang sedang meminum kortikosteroid harus mengurangi gula, garam & lemak. Kalau diketahui ada jenis makanan tertentu yang membuat kita merasa lemah atau mengakibatkan aktifnya Lupus, maka kita harus menjauhinya.

Warm bathHangati pada saat sakit: Lembab yang hangat lebih baik pada sendi yang sakit dari pada hangat yang kering. Berendam di tub, Jacuzzi atau mandi dengan air hangat akan membantu sendi menjadi lebih baik. Penggunaan es atau kompres dingin adalah 36 jam dari saat sakit.


Exercise Olahraga: Berjalan, perenggangan, berenang, aerobik low impact & bersepeda dapat membantu kita tetap kuat & mencegah penipisan tulang/osteoporosis. Ingat untuk diselingi dengan istirahat. Hati-hati untuk olahraga angkat beban atau olahraga high impact karena dapat membuat Lupus lebih parah. Kalau dirasakan letih sekali/tidak enak lebih dari 2 jam setelah olahraga, maka sesi olahraga tsb harus dikurangi menjadi lebih singkat.

Stop SmokingJangan merokok: Asap rokok mengandung bahan kimia, yang dapat mengakibatkan munculnya cutaneous lupus. Dapat mengakibatkan gejala penyakit Raynaud’s memburuk karena akibat aliran darah, dan dapat mengakibatkan gangguan perut dari pengobatan pada Odapus yang menggunakan tembakau.

Too tiredMengatasi kelelahan: Lelah adalah masalah yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Kita harus belajar untuk menyelingi kegiatan kita dengan istirahat. Berdiam diri di tempat tidur dapat membuat kita lemah, tapi kegiatan yang berlebihan dapat membuat Lupus menjadi aktif kembali.

Kehamilan: Banyak Odapus dapat melalui masa kehamilan dengan sukses. Kondisi Lupus harus dalam keadaan stabil & remisi sebelum kehamilan. Hamil pada saat Lupus aktif dapat mengakibatkan masalah yang cukup serius. Kita harus dipegang oleh dokter yang tahu menangani “resiko tinggi” sehingga potensi masalah pada Lupus & kehamilan dapat dikurangi. Sangat penting untuk mencari tahu obat apakah yang aman diminum pada saat kehamilan.

FeverAtasi demam atau infeksi segera: Hubungi dokter anda apabila suhu tubuh hampir mencapai 38 derajat Celcius. Hal itu mungkin akibat terjadinya infeksi atau Lupus.

Yayasan Lupus Indonesia (YLI): YLI memberikan edukasi dan dukungan kepada para Odapus & keluarga. Tersedia informasi mengenai kelompok support, buku & brosur Lupus, media komunikasi, dan artikel mengenai Lupus. Hubungi YLI untuk informasi lebih lanjut ataupun untuk bisa terlibat sebagai relawan.

Organ Tubuh Yang Terserang Lupus

Lupus dapat menyerang organ tubuh vital seperti : mata, syaraf, sendi, ginjal, hati, paru, jiwa, jantung, kulit, darah, paru dan hati.  Namun, serangan penyakit Lupus jarang mengenai seluruh organ tubuh sekaligus. Apabila seseorang mengalami dua atau lebih dari gejala-gejala Lupus maka harus segera diwaspadai “menderita Lupus”. Penyakit ini tidak mudah diketahui. Contoh kasus banyak terjadi pasien datang ke rumah sakit sudah dalam keadaan parah dan terjadi komplikasi.  Padahal jelas bahwa penyakit Lupus “sangat berpotensi” mengancam jiwa manusia .

Lingkaran Lupus

Lupus dapat menyerang:

diagram

Organ Tubuh Vital yang Terkena pada Lupus

Pada Ginjal :

Kelainan ginjal ringan ( infeksi ginjal ).

Kelainan ginjal berat ( gagal ginjal )

Kebocoran ginjal ( terbuangnya protein berlebihan melalui urine).

Tanda gangguan ginjal seperti bengkak seluruh tubuh.

50% Pasien Lupus alami kebocoran ginjal. Nefritis Lupus adalah salah satu komplikasi serius dari SLE yang cukup sering ditemukan dan merupakan gejala lupus yang serius.

Kerusakan ginjal pada penderita Lupus, umumnya terjadi kebocoran sehingga tidak bisa menjalankan fungsinya untuk menyaring zat –zat yang masih diperlukan tubuh.

Protein, misalnya, yang seharusnya tetap dipertahankan dalam tubuh, ikut dikeluarkan bersama zat lain yang tidak diperlukan tubuh dalm bentuk air seni. Tubuhpun akan kekurangan protein.

Jika kadar zat yang diperlukan tubuh masih teap tinggi dalam urine seperti protein dan sel darah merah, berarti terjadi kebocoran ginjal.Kerusakan ginjal sangat berbahaya karena sel – sel ginjal yang rusak tidak bisa diperbaiki. Rusaknya ginjal juga bisa mengakibatkan penderita lupus terkena penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi). Karena ginjal sangat berperan dalam mengatur tekanan darah.

Akibat hilangnya protein melalui air seni (urine) dari lupus nepritis yang menyebabkan penumpukkan cairan sehingga mengakibatkan kelebihan berat badan dan pembengkakan (edema), pada kondisi seperti ini dapat mengakibatkan pembengkakan di kaki, sendi atau jari. Bengkak seperti ini sering merupakan gejala pertama dari lupus nephritis yang mudah terlihat dari kondisi pasien.

Pada banyak pasien, ketidak normalan urine sangat samar, mungkin muncul pada satu pemeriksaan, akan tetapi tidak terlihat pada pemeriksaan berikutnya. Akan tetapi pada beberapa pasien, temuan tidak normal pada pemeriksaan urine berlangsung lama atau semakin lama malah semakin memburuk. Pasien dengan nephritis lupus seperti ini mempunyai risiko kehilangan fungsi ginjal. Oleh karena itu pada kondisi semacam ini, pasien memerlukan pemeriksaan tambahan untuk mengevaluasi tingkat kegawatan nephritis lupusnya serta untuk menentukan pendekatan pengobatan terbaik dalam mengendalikan penyakit mereka.

Perlu diingat bahwa, tidak semua masalah ginjal yang dialami oleh pasien Lupus merupakan nephritis lupus. Sebagai contoh, infeksi pada saluran kemih dengan rasa terbakar pada saat buang air seni sering terjadi pada pasien Lupus Obat-obat dengan menggunakan bahan salicylate (misalnya aspirin) atau obat-obat anti radang non-steroid merupakan obat-obatan yang paling sering digunakan oleh pasien lupus – pada obat-obatan ini dapat memicu masalah pada ginjal. Obat-obatan tersebut juga dapat menyebabkan hilangnya fungsi ginjal atau penumpukkan cairan – keluhan-keluhan ini akan menghilang, apabila penggunaan obat segera dihentikan.

Pemeriksaan untuk menguji Nefritis Lupus

Ada beberapa pemeriksaan yang biasanya dilakukan dokter untuk menguji penyakit ginjal pada pasien Lupus, yaitu :

Pemeriksaan air seni (urinalisis).

yaitu analisa terhadap urine , sejauh ini merupakan pemeriksaan yang mudah dan

paling sering digunakan untuk memeriksa nephritis lupus. Dalam pemeriksaan ini,

contoh urine diuji untuk mengetahui keberadaan protein dan sel darah yang tidak

biasanya ditemukan di dalam urine. Protein dan sel darah berkumpul pada ginjal

dan keluar melalui urine.

Keberadaan protein, sel-sel darah merah. Sel-sel darah putih

atau buangan dalam urine memberi kecenderungan terhadap

kemungkinan nephritis lupus dan umumnya merupakan indikasi perlunya pemeriksaan

lebih lanjut.

2. Urine yang dikumpulkan selama 24 jam.

yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap urine yang diperoleh dalam waktu lebih

dari 24 jam – sangat peka dalam menentukan keterlibatan ginjal pada pasien lupus.

Pemeriksaan ini mengukur kemampuan ginjal untuk menyaring sisa buangan dan

jumlah yang tepat dari protein yang hilang melalui urine

dalam waktu lebih dari 24 jam 3.  Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah yang  dilakukan untuk menguji apakah ginjal menjalankan

fungsi dengan baik. Urea nitrogen darah (blood urea nitrogen/BUN) dan serum

creatinine adalah dua pemeriksaan yang digunakan untuk menentukan apakah sisa

buangan sudah cukup dibuang oleh ginjal dan tidak tersisa di dalam darah. Kehilangan

protein melalui urine dapat menyebabkan rendahnya tingkat protein dalam darah dan

biasanya diukur dengan serum albumin – Albumin dalam darah. Pemeriksaan darah

juga dapat dilakukan untuk mengetahui ketidaknormalan sistem kekebalan yang sering

terjadi pada pasien dengan nephritis lupus. Pengukuran tingkat serum complement dan

anti DNA antibodi dalam darah – ini adalah dua jenis pemeriksaan yang sering

digunakan oleh dokter untuk mengawasi nephritis lupus.

Pemeriksaan sinar X (X-ray).

yaitu pemeriksaan pada ukuran dan bentuk ginjal yang dapat ditentukan dengan

intravenous pyelogram atau sonogram. Pemeriksaan seperti ini biasanya dilakukan

sebelum biopsi ginjal yang bertujuan untuk memberi panduan kepada dokter pada saat

melakukan biopsi ginjal.

5.  Biopsi ginjal.

Untuk mendeteksi seberapa jauh kerusakan ginjal, dilakukan biopsi ginjal.

Caranya, mngambil sebagian sel ginjal untuk diteliti. Melalui cara ini bisa

ditemukan seberapa parah kerusakan ginjal sehingga bisa ditentukan pengobatan yang

tepat.

Biopsi ginjal mengharuskan pasien untuk menginap di rumah sakit. Biopsi biasanya

dilakukan dengan cara memasukkan jarum menembus kulit dipinggang bagian

belakang dan mengambil sepotong kecil ginjal.

Kesimpulan :

Akibat lain yang ditimbulkan dari nefritis lupus yang terjadi pada beberapa pasien nefritis lupus adalah “hilangnya fungsi ginjal” secara progresif  atau terjadinya “gagal ginjal”. Pada kondisi semacam ini untuk mendukung penggunaan fungsi ginjal dapat dilakukan melalui penggunaan alat cuci darah tiruan .

Pada Jantung dan Paru :

Penderita akan merasakan gangguan pernafasan, ini muncul akibat terjadinya peradangan selaput yang membungkus paru-paru dan jantung sehingga menyebabkan terjadinya sesak nafas atau jantung terasa berdebar-debar

Terjadi pengumpulan cairan di dalam rongga selaput paru atau jantung .

Gangguan irama jantung, denyut nadi cepat.

Radang otot jantung.

Gagal Jantung.

Perdarahan paru / batuk darah.

Rentang derajat keterlibatan serangan terhadap jantung dan paru-paru ini dapat mengancam jiwa si pasien Lupus.  Kenyataannya, serangan jantung merupakan peringkat ketiga dari penyebab kematian bagi pasien Lupus.

Jantung

Serangan Lupus dapat mempengaruhi seluruh bagian dari jantung, termasuk kantung/selaput yang mengelilingi jantung, lapisan otot jantung, lapisan di bagian dalam jantung dan pembuluh koroner/jantung.

Kantung/selaput yang mengelilingi jantung

Merupakan penyakit yang biasanya terjadi pada jantung pasien pengidap lupus. Hal

ini terjadi saat lapisan pericardium diserang oleh auto-antibodi dan terjadi radang.

Gejala yang sering terjadi, yaitu rasa sakit yang sangat pada dada kiri di bagian bawah

tulang dada, demam,detak jantung terasa cepat dan kadang bernafas pendek-pendek.

Rasa sakit dapat berubah dengan mengubah posisi badan.  Biasanya rasa sakit akan

berkurang dengan mencondongkan badan agak ke depan. Rasa sakit di dada tersebut

rasanya mirip seperti terkena serangan jantung.  Dalam kasus pericardium, pasien

tidak mempunyai gejala apapun. Pemeriksaan darah, rontgen dada, EKG

(electrocardium) dan electrodiogram yang dapat membantu untuk melakukan

diagnosis pericarditis. Electrodiogram adalah ultrasound dari jantung dari hasil

pemeriksaan ini dokter dapat mengetahui apabila terdapat cairan disekeliling jantung.

Pada pasien Lupus, tidak biasanya ditemukan jumlah cairan yang berlebihan

disekeliling jantung.

Paru

Lupus juga dapat menyerang bagian paru-paru dengan berbagai cara. Radang selaput dada (pleurisy) biasanya merupakan  perwujudan terlibatnya paru-paru pada SLE. Pleura adalah selaput yang berada diantara bagian luar paru-paru dan bagian dalam rongga dada. Selaput tersebut memproduksi cairan secukupnya yang berfungsi melumasi ruang diantara paru-paru dan dinding dada. Apabila selaput ini diserang oleh autoantibodi dan terjadi peradangan – disebut pleuritis atau pleurisy.  Kadangkala jumlah cairan yang berlebihan dapat terakumulasi di dalam ruang pleural.  Hal ini disebut pleral efusion dan terjadinya tidak sesering pleuritis.

Apabila efusi  cukup banyak, efusi tersebut dapat terlihat pada hasil rontgen dada.

Gejala dari pleuritis (radang selaput dada) adalah rasa berat (severe) seperti rasa ditusuk pisau, rasa sakit yang menusuk terjadi pada daerah tertentu di bagian dada.  Rasa sakit kadang bertambah pada saat menarik nafas dalam-dalam, pada saat batuk, bersin atau tertawa. Obat-obatan analgesik (penghilang rasa sakit), anti radang non-steroid , dengan atau tanpa kortikosteroid dapat digunakan untuk mengobati pleuritis. Pleural efusion biasanya berkurang dengan pengobatan tersebut atau akan hilang dengan sendirinya bersamaan waktu.

Radang paru ( Pneumonitis ) adalah peradangan yang terjadi dalam jaringan paru yang bisa disebabkan oleh infeksi atau oleh lupus.

Infeksi sering menjadi penyebab pneumonitis pada pasien Lupus. Infeksi tersebut dapat disebabkan oleh organisme seperti bakteri, virus dan jamur/protozoa. Kadang pneumonitis bisa terjadi tanpa infeksi (pneumonitis non infeksi). Gejala pneumonitis adalah demam, sakit dibangian dada dan nafas pendek. Untuk memastikannya pasien dapat melakukan pemeriksaan darah, sputum (ludah atau dahak) dan rontgen untuk memastikan diagnosa pnemonitis. Sedangkan Bronchoscopy atau biopsi paru juga bisa dilakukan untuk menentukan benar/tidaknya infeksi sebagai pencetus pneumonitis. Pengobatan awal, pneumonitis diawali dengan penggunaan obat antibiotik.

Penyakit paru kronik yang berhubungan dengan kemampuan menyerap oksigen (chonic diffuse interstitial lung disease) adalah kelainan yang biasanya terjadi pada SLE. Penyakit tersebut adalah bentuk kronik dari lupus pneumonitis.  Gejalanya adalah serangan berangsur-angsur sampai kronik, batuk yang tidak produktif, rasa sakit di dada seperti pleuritis dan rasa sulit bernafas pada saat melakukan aktivitas fisik. Lupus pneumonitis kronik dapat mengakibatkan bekas luka atau parut pada paru-paru dan menurunkan kemampuan menyuplai oksigen ke dalam darah. Parut pada jaringan paru dalam menghambat oksigen untuk mudah menyerap secara normal (diffuses) dari paru-paru ke dalam darah.

Tingkat keparahan serta aktivitas dari penyakit kronik ini dapat diukur dan diikuti dengan tes fungsi paru-paru (tes pernafasan).  Kapasitas sebaran oksigen (difusi) pada paru-paru merupakan ukuran mudah atau sulitnya pergerakan oksigen dari paru-paru ke aliran darah. Kemampuan ini umumnya berkurang pada pasien Lupus pneumonitis kronik. Pengukuran secara periodik dari kapasitas sebaran dapat mengidentifikasikan respon terhadap pengobatan dn memungkinkan dokter mengikuti perkembangan penyakit tersebut.

Keimpulan :

Terserangnya paru-paru pada lupus adalah hal biasa. Pleuritis (radang selaput dada) dan infeksi adalah kondisi yang sering terjadi pada paru-paru. Pneumonitis (radang paru-paru) pada penderita lupus biasanya disebabkan oleh infeksi, akan tetapi bakteri atau virus juga sering menjadi penyebab. Semua pasien Lupus yang mengalami serangan batuk secara tiba-tiba atau rasa sakit di dada seperti pleuritis harus segera memberitahukan dokternya.

Pada umumnya masalah jantung- paru berkaitan dengan lupus akan cepat beraksi terhadap pengobatan. Akan tetapi harus ditindak lanjuti secara seksama, cepat dan akurat diagnosanya terhadap masalah serta pengobatan yang agresif untuk mengurangi kerusakan pada organ tubuh adalah sangat penting bagi suksesnya pengendalian penyakit jantung dan paru-paru pada lupus.

Pada Syaraf :

- Susunan Syaraf Pusat :

Kejang, sawan ( epilepsi ), gangguan jiwa ( psikosis ).

Kelumpuhan anggota gerak tubuh sebelah ( stroke ).

Radang selaput otak.

Radang pada sumsum tulang belakang.

- Susunan Syaraf Tepi :

Gangguan rasa raba.

Kelemahan gangguan otot akibat gangguan syaraf.

-  Syaraf Otonom

Bagaimana cara lupus mempengaruhi sistem syaraf ?

Sistem syaraf memerlukan aliran darah yang terus menerus ke jaringan untuk menyediakan oksigen and nutrisi yang diperlukan agar tetap berfungsi secara normal. Nutrisi dan oksigen dikirimkan melalui pembuluh darah dan memberi makan ke otak, urat syaraf tulang belakang dan syaraf sendiri. Jika aliran terlambat atau terputus, sel-sel syaraf akan terluka (injured) sehingga tidak mampu berfungsi secara normal.

Gejalanya :

1. Tidak berfungsinya kesadaran (cognitive dysfunction)

Pada 50% pasien lupus tergambar perasaan bingung, lelah, kerusakan memori dan

kesulitan dalam menyatakan pikiran mereka. Kumpulan dari gejala-gejala tersebut

disebut “tidak bekerjanya fungsinya pengenalan/kesadaran – cognitive dysfunction”.

2.  Sakit kepala lupus.

Sakit kepala lupus dapat diobati seperti mengobati sakit kepala yang disebabkan

tekanan darah atau migran, terapi obat corticosteroid sangat membantu pasien.

3.   Sindrom antiphospholipid.

Sepertiga dari penderita lupus mempunyai hasil penelitian spilis positip yang palsu,

positip anticardiolipin atau prolonged clotting time test (pemeriksaan waktu

penggumpalan yang berlangsung lama) yang disebut PTT – hal ini disebut sebagai

lupus anticoagulant atau antiphospholipid antibodi.

4. Sindrom organ otak (organic brain syndrome).

Penderita lupus dengan sejarah stroke atau vasculitis akan mengalami kerusakan

pada otak yang berganti dengan jaringan berparut — ini merupakan serangan

mendadak yang berupa kesulitan menggerakkan otot, ingatan, konsentrasi dan

orientasi. Pasien Lupus yang mengalami sindrom organ otak dan biasanya tidak

terdapat bukti yang memperlihatkan aktivitas lupus di dalam darah atau sumsum

tulang belakang. Pengobatan dengan steroid akan memperburuk gejala yang ada.

Sindrom otak dapat diobati dengan dukungan emosional.

5. Fibromyalgia (sindrom fibrositis).

20% pasien Lupus mengalami sindrom fibromyalgia (fibrositis) berlanjut yang

diwujudkan dengan titik-titik lembut (tender points) dan meningkatnya rasa sakit

pada jaringan lunak. Pasien mengalami menurunnya kemampuan untuk

berkonsentrasi , susah tidur dan tidak memiliki stamina. Sindrom ini dapat diobati

dengan obat-obat anti depressan, konsultasi dengan psikiater dan terapi fisik jika

diperlukan.

Pemeriksaan diagnosa Syaraf yang ada saat ini adalah dengan scan otak CT, MRI (magnetic resonance

imaging), gelombang otak EEG (electroencephalogram) dan pengambilan sumsum tulang belakang.

Bagaimana dokter mengevaluasi gejala pada sistem syaraf ?

Apabila tubuh Anda mengalami gejalap-gejala sistem syaraf seperti disebut diatas, segera beritahukan dokter Anda. Sebab, sebab-sebab munculnya gejala-gejala tersebut bisa saja karena kondisi di luar Lupus (misal pengaruh obat atau pola hidup yang tidak baik). Langkah penanganan awal yang perlu Anda lakukan adalah konsultasi dengan dokter, pemeriksan badan dan laboratorium (untuk mengetahui dengan tepat susunan kimiawi, jumlah unsur darah dan urinalysis).  Proses diagnosa sistem syaraf sangat susah karena tidak adanya “tes khusus” untuk mengetahui keterlibatan sistem syaraf oleh Lupus.

Kesimpulan :

Pengobatan sistem syaraf lupus tergantung dari sumber gejalanya. Pengobatan dapat menggunakan steroid, immunosppresant, pengencer darah, antibiotik, anti convulsant, anti depresi, konsultasi dengan psikiater atau operasi pembedahan. Pada banyak pasien Lupus, keterlibatan sistem syaraf tidak bisa disembuhkan sama sekali.

Pada Kulit :

Ruam – ruam merah melintang pada kedua pipi dan hidung

Bercak – bercak merah bentuknya seperti uang logam bisa tampak rata atau timbul.

Kadang bersisik dan terasa gatal.

Bercak – bercak ini dapat muncul di bagian kulit mana saja ( muka , kaki , tangan, perut, dada, punggung , kepala).

Pada gejala semacam ini, penderita akan sangat rentan terhadap sinar matahari.

Terkena sinar matahari saja akan menyebabkan kulit memerah seperti luka terbakar matahari.

Penyakit kulit sering kali dialami penderita lupus erythematosus.  Ruam dan luka pada kulit pasien SLE dapat di bagi dalam ruang dan luka kulit yang spesifik lupus serta yang terjadi karena penyakit selain lupus. Ada dua luka spesifik yang berkaitan dengan SLE, yaitu :

1.  Luka diskoid

Istilah discoid secara harafiah adalah berbentuk koin.  Luka parut berbentuk koin,

biasanya terlihat pada daerah dimana kulit terkena langsung cahaya (diberi istilah

discoid lupus erythematosus). Seorang dokter tidak dapat menentukan, apakah ya atau

tidak – luka diskoid lupus terjadi pada keberadaan atau ketidakberadaan gambaran

sistemik hanya dengan memeriksa bentuk/ukuran dari luka.

Lalu apa hubungan antara diskoid lupus dan systemic lupus erythematosus? Lupus

erythematosus sebaiknya dilihat sebagai rangkaian kesatuan dari spektrum (aneka

warna) penyakit. Pada ujung spektrum, kebanyakan luka dicirikan dengan luka kulit

berparut berbentuk coin yang diberi istilah luka diskoid. Sedangkan pada ujung lain

dari spektrum, yaitu penderita lupus yang tidak mempunyai luka kulit, tapi memiliki

gambaran sistemik (misalnya radang sendi atau sakit pada ginjal).

Pada seseorang yang memiliki luka diskoid, tanpa gambaran sistemik — umumnya

tidak memiliki auto-antibodi dalam serum darah mereka. Sedangkan bagi pasien

Lupus SLE dicirikan dengan adanya satu jenis atau lebih auto antibodi di dalam darah

mereka. Dari hasil penelitiannya bahwa diantara 5% sampai 10%

pasien Lupus memperlihatkan luka discoid lupus berbentuk koin yang kemudian

berkembang menjadi sistemik. Berdasarkan penelitian bahwa, suatu saat proses

penyakit lupus bergerak dinamis seiring waktu, sejumlah kecil pasien Lupus yang

memiliki luka diskoid tersebut pada akhirnya berkembang menjadi luka sistemik.

2.  Luka kutenus sub-akut (subacute cutaneous lesions)

Jenis luka spesifik ini ditemukan oleh Sonthiemer dan Gilliam pada akhir tahun 70-an.

Ciri-ciri luka ini tidak berparut, erythematosus (berwarna merah) berbentuk koin yang

sangat sensitif terhadap sengatan matahari (akan bertambah parah jika terkena sinar

ultraviolet).   Jenis luka seperti ini berciri cutaneous lupus sub akut – bisa terjadi

penderita lupus. Luka cutaneous lupus sub akut kadangkala dapat menyerupai luka

psoriaris (semacam penyakit kulit yang kronis) atau berupa luka tidak berparut

berentuk koin. Luka seperti ini dapat terjadi di wajah dalam pola kupu-kupu atau

dapat mencakup area yang luas di tubuh. Tidak seperti luka diskoid lupus, luka

cutaneous lupus sub akut tidak menyebabkan parut tapi dapat menjadi masalah

kosmetis utama yang signifikan.

Yang tidak spesifik :Rambut rontok

Luka yang tidak spesifik lupus antara lain : rambut akan mengalami kerontokan

(alopecia) yang tidak berkaitan dengan luka discoid lupus di kulit kepala. Penderita

sistemik lupus yang penyakitnya parah mungkin akan mengalami kebotakan. Akibat

serangan SLE yang parah dapat mengganggu pertumbuhan rambut dan

menyebabkannya menjadi rapuh dan gampang rusak. Rusaknya rambut, khususnya di

bagian tepi kulit kepala akan memberikan ciri penampakan- yang disebut “rambut

lupus”,  tetapi kelak rambut ini secepatnya tergantikan oleh rambut baru.

Vaskulitis

Pada pasien SLE juga bisa berkembang menjadi penyakit radang pembuluh darah

(vasculitis). Luka vasculitis bisa berupa bilur berwarna merah yang melibatkan area

yang luas di tubuh. Luka seperti ini juga dapat muncul berupa garis kecil berwarna

merah pada ujung lipatan kuku di ujung jari atau berupa jendul merah di kaki yang

dapat menjadi borok.

Photosensitivity (peka terhadap sinar matahari)

Kepekaan terhadap cahaya merupakan gambaran umum dari lupus erythematosus.

Sekitar 40% sampai 70% pasien Lupus akan mendapati bahwa proses penyakit

mereka termasuk penyakit kulit akan bertambah buruk bila terkena cahaya matahari.

Pengobatan

Pengobatan penyakit kulit pada lupus erythematosus dapat menggunakan cream steroid, plester steroid untuk menutup luka lupus atau dengan suntikan steroid dosis Sedangkan luka lupus yang menyebar luas seringkali diobati dengan menggunakan hidroksikhloroquin(plaquenil) atau dikombinasi dengan menggunakan steroid oral dosis tinggi yang diberikan untuk waktu yang singkat. Krem pelindung matahari digunakan untuk mencegah luka kulit lupus. Karena itu pasien Lupus sebaiknya menghindar dari terkena cahaya matahari secara langsung dalam waktu lama.

Kesimpulan :

Perlu diingat : adakalanya luka diskoid lupus muncul di kulit kepala yang dapat mengakibatkan “kebotakan” berparut di tempat tersebut (atau istilahnya alopecia). Yang kemudian luka diskoid ini akan menjalar ke bagian tengah dari wajah dan hidung yang berbentuk ruam kupu-kupu. Jenis lupus seperti itu mempunyai implikasi kosmetik yang signifikan — maksudnya luka  diskoid lupus akan menebal, bersisik atau luka . Berdasarkan hasil penelitian saat ini, luka diskoid lupus merupakan hasil dari proses

peradangan di dalam kulit dimana kelenjar getah bening pasien  (utamanya sel T) memegang peranan utama. Hal ini berlawanan dengan systemic lupus erythematosus, dimana formasi auto-antibodi dan immune complex bertanggung jawab terhadap banyak gejala klinis.

Pada Jiwa :

Gangguan alam perasaan : cemas ,depresi.

Gangguan proses berpikir.

Gangguan lain : sakit kepala, pusing, lupa daya ingatan, gangguan mental.

Pada Sendi & Otot :

Rasa sakit pada sendi dan otot adalah gejala yang paling umum pada SLE.  Karena pada kenyataannya 90% dari pasien Lupus suatu saat selama terserang penyakit ini mereka akan mengalami rasa sakit di sendi atau otot.

Masalah yang sering dihadapi oleh pasien radang sendi dan otot bermacam-macam

Kadang seringkali, menimbulkan rasa sakit di sendi (arthralgia) dan bagian otot

(myalgia) menyerupai penyakit yang disebabkan oleh virus atau flu. Rasa sakit

lainnya, tidak hanya terasa sakit pada sendi tetapi juga membengkat, hangat dan

lembek. Sedangkan rasa sakit pada radang otot lebih hebat lagi, mengakibatkan

melemah dan hilangnya kekuatan otot secara cepat sebagai penambah terhadap rasa sakit di otot.

Radang Sendi Lupus

Rasa sakit di sendi pada radang sendi lupus bisa terjadi kapan saja. Serangan pada seseorang bisa terjadi selama berhari-hari atau berbulan-bulan tapi setelah itu akan mereda. Sendi-sendi yang jauh dari batang tubuh (contoh jari, pergelangan tangan, siku, lutut dan pergelangan kaki) adalah yang paling sering terkena. Tanda-tandanya biasanya dimulai dengan rasa kaku atau sakit di pagi hari, yang kemudian berlanjut dengan rasa lelah dan rasa sakit tersebut akan kembali menyerang beberapa hari berikutnya.

Ciri lain dari radang sendi lupus adalah bahwa rasa sakit yang timbul biasanya simetris, maksudnya akan mempengaruhi sendi yang sama pada kedua sisi tubuh. Oleh karena itu, rasa sakit dan bengkak kronis hanya akan terjadi pada satu sendi meskipun terjadi pada seseorang yang didiagnosa lupus.  Radang sendi lupus tidak selalu disebabkan oleh kelainan bentuk atau kerusakan pada sendi. Tidak adanya kerusakan pada sendi ini dapat diamati (secara klinis) maupun melalui rontgen.

Diagnosa

Pola dari rasa sakit di sendi dengan keadaan riwayat pasien dapat dijadikan sebagai petunjuk terbaik dalam menentukan jika rasa sakit itu disebabkan oleh SLE atau bukan. Biasanya hasil rontgen sendi yang terasa sakit pada penderita radang sendi lupus umumnya normal.  Pada kenyataannya, apabila hanya radang sendi yang menjadi gejala lupus, pemberian diagnosa akan sangat sulit – dalam kasus ini perlu dilakukan pemeriksaan yang cermat dan penilaian kembali dari dokter terhadap gejala SLE lain yang mungkin akan berkembang dalam membuat diagnosa baru.

Pemeriksaan laboratorium seperti : pemeriksaan anti-nuclear antibody (ANA) serta pemeriksaan terhadap faktor rematik dapat membantu. Paling tidak 76% orang biasa (bukan penderita lupus) akan memiliki antiibodi (faktor rematik) dalam darah mereka.  Paling tidak 95% penderita SLE akan memiliki berbagai bentuk antibodi lain (yaitu ANA) di dalam darah mereka. Tetapi perlu ditegaskan disini : bahwa tidak ada satupun dari antibodi tersebut yang spesifik bagi radang sendi rematik ataupun SLE.

Pengobatan

Radang sendi pada lupus dapat diobati dengan obat-obat anti radang non steroid (NSAIDs) seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen. Obat-obatan ini efektif digunakan pada sebagian besar kasus dan umumnya dapat ditolerir oleh penderita. Namun, jika obat-obatan ini tidak efektif, dapat digunakan obat-obatan anti malaria seperti hidroksikloroquin(plaqueni).

Sedangkan terapi obat kortikosteroid (prednisone) jarang digunakan dan akan digunakan hanya jika sendi-sendi tetap bengkak dan terasa sakit meskipun telah dilakukan pengobatan lain.  Namun yang tak kalah penting bagi pasien Lupus yang mengalami radang sendi lupus, mereka harus belajar “mengisitirahatkan” sendi-sendi tersebut selama serangan radang sendi lupus dengan tidak melakukan gerakan-gerakan yang dapat menambah rasa sakit.

Radang Otot (myositis) lupus

Gejala rasa sakitnya tidak seperti pada radang sendi. Rasa sakit pada radang otot justru bisa mengalami kerusakan yang parah akibat SLE. Kerusakan ini disebabkan oleh rasa lemah dan hilangnya kekuatan otot, kecuali pasien secepatnya diberi pengobatan yang tepat. Radang otot lupus tidak hanya memberi rasa sakit, tetapi juga akan terasa lembek bila disentuh. Lemah otot ini merupakan gejala yang paling sering terjadi pada radang otot (myositis).

Diagnosa

Diagnosa terhadap radang otot SLE bisa dilakukan secara langsung dengan melakukan pemeriksaan pada saat kondisi tidak normal ini. Pemeriksaan seperti ini dapat digunakan untuk menentukan parahnya kondisi otot yang terlibat : semakin tinggi level enzim tersebut di dalam darah — maka semakin parah pula radang otot.

Pemeriksaan dapat dilakukan melalui EMG (electromyogram) – untuk menentukan ciri-ciri kerusakan otot pada radang otot lupus. Apabila memang terjadi radang — hasil EMG akan memperlihatkan pola khas dari tanggapan elektris.  Sedangkan pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop terhadap jaringan otot (biopsy) yang diambil dari otot yang terasa sakit dapat dilakukan untuk mengkonfirmasikan keberadaan radang dan membantu mengindentifikasi parahnya radang otot tersebut.

Pengobatan

Terapi obat kortikosteroid juga bisa diberikan untuk mengobati radang otot lupus dengan menggunakan dosis tinggi atau menggunakan pengobatan prednisone atau sejenisnya per hari – sebagai permulaan, dengan tujuan untuk menekan dan mengendalikan radang secepatnya. Pemakaian dosis steroid secara bertahap dapat dikurangi sepanjang radang otot telah mereda.  Sebagian besar pasien Lupus menanggapi terapi pengobatan ini secara cepat dan baik terhadap penggunaan steroid .            Setelah fase peradangan akut, pasien radang otot lupus perlu diberikan program latihan olah raga yang terarah dan benar yang bertujuan untuk membantu pasien memperoleh kembali kekuatan dan fungsi otot yang normal.

Kesimpulan :

Karena itu bagi pasien Lupus, program latihan olah raga perlu dirancang secara rutin untuk membantu mencegah terjadinya lemah otot pada penderita radang otot lupus.

Pada Mata :

vasculitis yang melibatkan pembuluh darah kecil pada retina dapat terjadi

pada lupus. Retina adalah jaringan yang berada di bagian belakang mata yang       mengandung sel-sel yang harus diaktifkan untuk membentuk gambaran pengelihatan.

Vasculitis di mata tidak menyebabkan gejala apapun. Biasanya ditandai dengan

pengelihatan menjadi buram yang terjadi secara tiba-tiba dan kadang menetap

menjadi buta.

Pada Darah :

Hematologist adalah spesialis dalam kelainan darah yang sangat membantu dalam pengelolaan medis terhadap pasien SLE.  Pada umumnya, jarang terjadi tanda-tanda awal lupus muncul di dalam darah. Tetapi pada beberapa pasien Lupus, kelainan darah merupakan gejala utama. Gejala kelainan darah utama pada SLE adalah anemia, thrombocytopenia (rendahnya jumlah keping darah/platelet), gangguan pembekuan dan rendahnya jumlah sel darah putih.

Anemia

Ketidak normalan darah paling sering terjadi pada SLE adalah anemia, yaitu berkurangnya jumlah sel darah merah. Anemia diketahui pada setiap pemeriksaan : hematokrit, konsentrasi hemoglobin dalam darah atau jumlah sel darah merah. Umumnya, sekitar separuh dari pasien dengan Lupus aktif mengalami anemia. Parah atau tidaknya sebanding dengan tingkat aktivitas lupus pada penderita. Kelelahan dan perasaan menderita pada pasien dengan lupus aktif merupakan tanda-tanda dari anemia. Kekurangan zat besi juga merupakan penyebab umum lainnya dari anemia – terjadi karena kekurangan darah dari dalam tubuh.

Anemia hemolitik pada pasien Lupus terjadi karena antibodi langsung berlawanan dengan sel-sel darah merah. Hal ini disebut “autoimmune hemolytic anemia” — pada kondisi ini auto antibodi berinteraksi dengan sel-sel darah merah yang menyebabkan sel-sel tersebut dimusnahkan di dalam limpa atau hati oleh “sel-sel pemakan bangkai (macrophages)”.

Steroid seperti prednisone biasanya efektif dalam pengobatan anemia jenis ini.  Namun pada beberapa pasien Lupus tidak bereaksi terhadap pengobatan jenis ini,sehingga

membutuhkan pembedahan untuk mengangkat limpa- nya (splenectomy), jika anemia-nya parah, transfusi darah mungkin diperlukan.

Rendahnya jumlah kepingan darah (Thrombocytopenia)

yaitu kepingan darah atau platelet (thrombocytes) adalah partikel kecil di dalam darah yang berguna untuk pembekuan darah. Kekurangan kepingan darah disebut trombositopenia, kondisi ini dapat mengarah kepada lebam berlebihan pada kulit dan pendarahan dari gusi, hidung atau bagian dalam perut . Masih banyak kasus trombositopenia , oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan terhadap sum-sum tulang untuk memperjelas hasil diagnosa. Pemeriksaan sum-sum tulang umumnya dilakukan dengan mengambil contoh sum-sum tulang dengan menggunakan jarum.

Penyebab trombositopenia yang paling sering terjadi pada pasien Lupus adalah “imun trombositopenia” atau biasa di kenal dengan “ITP”. Kondisi ini disebabkan karena antibodi berlawanan dengan keping darah atau antibodi merusak keping darah.  Terjadinya ITP banyak dialami pasien Lupus, bahkan dianggap sebagai gejala lupus satu-satunya.

Pada kasus yang (jarang terjadi),  ITP dan auto imun hemolitik anemia muncul

bersamaan. ITP biasanya diobati dengan steroid (prednisone) tetapi pada beberapa kasus

spllenektomi (bedah untuk mengangkat limpa) mungkin diperlukan.

Pada kasus kehamilan, anti platelet antibodi dapat menyeberangi plasenta kemudian

memasuki janin dan mengakibatkan trombositopenia.

Lupus anti-coagulant (gangguan pembekuan)

Pada beberapa pasien SLE – tubuh yang menghasilkan antibodi berdampak pada

pemeriksaan pembekuan darah atau disebut partial tromboplastin time (PTT). Antibodi ini disebut “lupus anti coagulant”. Istilah coagulant biasanya menunjuk ke suatu bahan/zat yang bercampur dengan mekanisme pembekuan darah yang normal dan merupakan hasil dari pendarahan yang tidak normal atau parah.

Lupus anti coagulant hampir tidak pernah dikaitkan dengan pendarahan yang tidak normal, bahkan ketika terluka atau pembedahan. Pada beberapa pasien dengan lupus anti coagulant cenderung terbentuk ketidak normalan pembekuan darah, khususnya pada vena – yang merupakan hasil dari kondisi tersebut disebut “venous thrombosis”.  Venous

thrombosis perlu diobati dengan obat-obat anti-coagulant seperti : heparin dan coumadin, terutama dalam kasus yang berkaitan dengan pulmonary embolus.  Pulmonary embolus

adalah suatu kondisi dimana serpihan dari pembekuan di vena memasuki sirkulasi dan tinggal di paru-paru.   Lupus anti-coagulant diketahui pada kasus keguguran yang berulang.

Rendahnya jumlah sel darah putih

Pada SLE, salah satu dari dua jenis utama sel darah putih yaitu : granulocytes dan

lymphocytes (mungkin akan berkurang) yang menyebabkan terjadinya granulocytopenia

(jumlah granulosit rendah) dan limpositopenia (jumlah limfosit rendah).  Namun,

ketidak normalan ini tidak berbahaya dan tidak menyebabkan terjadinya gejala apapun juga.

Infeksi Pada Lupus:

Sebelum dicapai kemajuan medis dalam mendiagnosa dan pengobatan lupus — banyak penderita lupus menemui ajalnya karena gagal ginjal dan serangan sistem syaraf pusat (central nervous system).  Sekarang ini banyak kasus Odapus meninggal karena infeksi dari penyakit sistemik lupus aktif

Pasien Lupus lebih rentan terhadap infeksi dibandingkan dengan orang kebanyakan dengan dua alasan, yaitu :

Lupus secara langsung mempengaruhi sistem kekebalan –sehingga mengurangi kemampuan pasien dalam mencegah dan melawan infeksi.

Pasien Lupus memiliki ketidak normalan dalam sistem kekebalan yang

menyebabkan cenderung berkembangnya infeksi dalam tubuh.

Banyak dari obat-obatan yang digunakan untuk mengobati lupus yang “menekan” fungsi kekebalan – sehingga menjadikan pasien Lupus cenderung terkena infeksi.

Obat-obatan seperti cortisone (prednisone) dan cytotoxic seperti azatthioprine

(Imuran) dan cyclophosphamide (cytoxan) dapat meningkatkan kerentanan pengguna

terhadap infeksi akibat obat-obatan tersebut sehingga menekan “sistem kekebalan”

pada kondisi tubuh yang normal ataupun yang tidak normal.

Jenis-Jenis Infeksi Pada Lupus

Infeksi yang terjadi pada pasien Lupus terdiri dari dari dua golongan. Golongan pertama adalah infeksi yang disebabkan oleh organisme yang dapat menyebabkan infeksi pada penderita lupus dan orang kebanyakan.

Golongan kedua terdiri dari infeksi “oportunistik”,  disebabkan oleh organisme yang mampu menyebabkan penyakit hanya jika sistem kekebalan melemah. Kebanyakan infeksi oportunistik disebabkan oleh jamur, parasit atau protozoa.

Infeksi yang sering paling sering terjadi pada pasien Lupus melibatkan saluran pernafasan, kulit dan saluran kemih. Setiap penderita lupus yang mengalami demam sebaiknya dievaluasi secara menyeluruh. Khususnya jika pasien menggunakan aspirin, obat-obat anti radang non-steroid (misalnya : Advil, Naprosyn) atau steroid yang dapat menurunkan suhu tubuh. Bagi pasien yang mengalami infeksi yang dapat mengancam jiwa tapi tidak diketahui sumber infeksinya, sebaiknya di rawat inap  untuk dilakukan pemeriksaan untuk membantu mempercepat diagnosa.

Vasculitis Pada Lupus:

Pengertian Vasculitis

Vasculitis adalah radang yang terjadi pada pembuluh darah. Radang di sini adalah suatu kondisi dimana jaringan pembuluh darah dirusak oleh sel-sel darah yang memasukinya.  Sel-sel darah tersebut kebanyakan adalah sel-sel darah putih yang bersirkulasi dan menjalankan tugas sebagai pertahanan utama kita melawan infeksi.  Biasanya sel-sel darah putih akan menghancurkan bakteri atau virus. Akan tetapi mereka juga dapat merusak jaringan normal jika mereka menyerang. Vasculitis juga dapat mempengaruhi pembuluh darah yang sangat kecil (kapiler), pembuluh darah ukuran menengah (arterioles atau venules), atau pembuluh darah yang besar (arteri/vena).

Beberapa hal yang terjadi pada pembuluh darah yang mengalami radang. Jika radang terjadi pada pembuluh darah kecil, maka akan pecah dan menghasilkan area kecil pendarahan di dalam jaringan. Pada area ini akan muncul seperti noda kecil berwarna merah atau unggu di atas kulit. Tetapi, jika radang terjadi pada pembuluh darah besar, maka akan terjadi pembengkakan dan menghasilkan noda yang akan terlihat jika pembuluh tersebut berada di dekat permukaan kulit.  Bagian dalam dari tabung pembuluh darah akan menjadi sempit sehingga aliran darah berkurang atau bahkan tertutup total (akibat adanya darah beku yang terbentuk pada tempat peradangan). Jika aliran darah berkurang atau berhenti, jaringan yang menerima darah dari pembuluh tersebut akan mati. Contohnya seseorang dengan vasculitis pada arteri ukuran sedang di bagian tangannya (jari-jarinya) akan menjadi dingin (cold finger) dan terasa sakit jika digerakkan – hal ini bisa berkembang menjadi gangrene.

Konsultasi ke dokter

Jika Anda mengalami vasculitis sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Ingat : vasculitis bisa sangat ringan bisa sangat parah atau mengancam jiwa.

Diagnosa Vasculitis

Diagnosa vasculitis bisa didapat berdasarkan catatan kesehatan pasien untuk melihat gejala-gejala yang ada, pengujian fisk secara lengkap serta hasil pemeriksaan laboratorium.  Ketidak normalan pada darah dapat terjadi apabila vasculitis muncul adalah terlihat dari naiknya tingkat pengendapan darah, anemia serta jumlah darah putih dan keping darah (platet) yang tinggi. Pemeriksaan darah digunakan untuk mengenali immune complexes atau antibodi dalam sirkulasi darah yang menyebabkan vasculitis dan mengukur tingkat complement normal atau tidak, selain itu dokter juga akan melakukan analisa air seni (urine).

Kesimpulan :

Ada beberapa akibat yang di derita dari vasculitis. Pada banyak pasien, vasculitis terbatas pada kulit (pada kasus vasculitis pada lupus tidak mengancam jiwa).

Sedangkan bagi pasien vasculitis yang parah (menyerang organ utama) biasanya menyebabkan cacat secara permanen. Umumnya, pasien vasculitis dapat menghilang, tetapi akan muncul lagi nanti dan memerlukan pengobatan lagi

Support Group

SUPPORT GROUP

DSCN5677

DSCN5674

Kegiatan Support Group Yang dilaksanakan di RS Kramat 128