Lupus dapat menyerang organ tubuh vital seperti : mata, syaraf, sendi, ginjal, hati, paru, jiwa, jantung, kulit, darah, paru dan hati. Namun, serangan penyakit Lupus jarang mengenai seluruh organ tubuh sekaligus. Apabila seseorang mengalami dua atau lebih dari gejala-gejala Lupus maka harus segera diwaspadai “menderita Lupus”. Penyakit ini tidak mudah diketahui. Contoh kasus banyak terjadi pasien datang ke rumah sakit sudah dalam keadaan parah dan terjadi komplikasi. Padahal jelas bahwa penyakit Lupus “sangat berpotensi” mengancam jiwa manusia .
Lingkaran Lupus
Lupus dapat menyerang:

Organ Tubuh Vital yang Terkena pada Lupus
Pada Ginjal :
Kelainan ginjal ringan ( infeksi ginjal ).
Kelainan ginjal berat ( gagal ginjal )
Kebocoran ginjal ( terbuangnya protein berlebihan melalui urine).
Tanda gangguan ginjal seperti bengkak seluruh tubuh.
50% Pasien Lupus alami kebocoran ginjal. Nefritis Lupus adalah salah satu komplikasi serius dari SLE yang cukup sering ditemukan dan merupakan gejala lupus yang serius.
Kerusakan ginjal pada penderita Lupus, umumnya terjadi kebocoran sehingga tidak bisa menjalankan fungsinya untuk menyaring zat –zat yang masih diperlukan tubuh.
Protein, misalnya, yang seharusnya tetap dipertahankan dalam tubuh, ikut dikeluarkan bersama zat lain yang tidak diperlukan tubuh dalm bentuk air seni. Tubuhpun akan kekurangan protein.
Jika kadar zat yang diperlukan tubuh masih teap tinggi dalam urine seperti protein dan sel darah merah, berarti terjadi kebocoran ginjal.Kerusakan ginjal sangat berbahaya karena sel – sel ginjal yang rusak tidak bisa diperbaiki. Rusaknya ginjal juga bisa mengakibatkan penderita lupus terkena penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi). Karena ginjal sangat berperan dalam mengatur tekanan darah.
Akibat hilangnya protein melalui air seni (urine) dari lupus nepritis yang menyebabkan penumpukkan cairan sehingga mengakibatkan kelebihan berat badan dan pembengkakan (edema), pada kondisi seperti ini dapat mengakibatkan pembengkakan di kaki, sendi atau jari. Bengkak seperti ini sering merupakan gejala pertama dari lupus nephritis yang mudah terlihat dari kondisi pasien.
Pada banyak pasien, ketidak normalan urine sangat samar, mungkin muncul pada satu pemeriksaan, akan tetapi tidak terlihat pada pemeriksaan berikutnya. Akan tetapi pada beberapa pasien, temuan tidak normal pada pemeriksaan urine berlangsung lama atau semakin lama malah semakin memburuk. Pasien dengan nephritis lupus seperti ini mempunyai risiko kehilangan fungsi ginjal. Oleh karena itu pada kondisi semacam ini, pasien memerlukan pemeriksaan tambahan untuk mengevaluasi tingkat kegawatan nephritis lupusnya serta untuk menentukan pendekatan pengobatan terbaik dalam mengendalikan penyakit mereka.
Perlu diingat bahwa, tidak semua masalah ginjal yang dialami oleh pasien Lupus merupakan nephritis lupus. Sebagai contoh, infeksi pada saluran kemih dengan rasa terbakar pada saat buang air seni sering terjadi pada pasien Lupus Obat-obat dengan menggunakan bahan salicylate (misalnya aspirin) atau obat-obat anti radang non-steroid merupakan obat-obatan yang paling sering digunakan oleh pasien lupus – pada obat-obatan ini dapat memicu masalah pada ginjal. Obat-obatan tersebut juga dapat menyebabkan hilangnya fungsi ginjal atau penumpukkan cairan – keluhan-keluhan ini akan menghilang, apabila penggunaan obat segera dihentikan.
Pemeriksaan untuk menguji Nefritis Lupus
Ada beberapa pemeriksaan yang biasanya dilakukan dokter untuk menguji penyakit ginjal pada pasien Lupus, yaitu :
Pemeriksaan air seni (urinalisis).
yaitu analisa terhadap urine , sejauh ini merupakan pemeriksaan yang mudah dan
paling sering digunakan untuk memeriksa nephritis lupus. Dalam pemeriksaan ini,
contoh urine diuji untuk mengetahui keberadaan protein dan sel darah yang tidak
biasanya ditemukan di dalam urine. Protein dan sel darah berkumpul pada ginjal
dan keluar melalui urine.
Keberadaan protein, sel-sel darah merah. Sel-sel darah putih
atau buangan dalam urine memberi kecenderungan terhadap
kemungkinan nephritis lupus dan umumnya merupakan indikasi perlunya pemeriksaan
lebih lanjut.
2. Urine yang dikumpulkan selama 24 jam.
yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap urine yang diperoleh dalam waktu lebih
dari 24 jam – sangat peka dalam menentukan keterlibatan ginjal pada pasien lupus.
Pemeriksaan ini mengukur kemampuan ginjal untuk menyaring sisa buangan dan
jumlah yang tepat dari protein yang hilang melalui urine
dalam waktu lebih dari 24 jam 3. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah yang dilakukan untuk menguji apakah ginjal menjalankan
fungsi dengan baik. Urea nitrogen darah (blood urea nitrogen/BUN) dan serum
creatinine adalah dua pemeriksaan yang digunakan untuk menentukan apakah sisa
buangan sudah cukup dibuang oleh ginjal dan tidak tersisa di dalam darah. Kehilangan
protein melalui urine dapat menyebabkan rendahnya tingkat protein dalam darah dan
biasanya diukur dengan serum albumin – Albumin dalam darah. Pemeriksaan darah
juga dapat dilakukan untuk mengetahui ketidaknormalan sistem kekebalan yang sering
terjadi pada pasien dengan nephritis lupus. Pengukuran tingkat serum complement dan
anti DNA antibodi dalam darah – ini adalah dua jenis pemeriksaan yang sering
digunakan oleh dokter untuk mengawasi nephritis lupus.
Pemeriksaan sinar X (X-ray).
yaitu pemeriksaan pada ukuran dan bentuk ginjal yang dapat ditentukan dengan
intravenous pyelogram atau sonogram. Pemeriksaan seperti ini biasanya dilakukan
sebelum biopsi ginjal yang bertujuan untuk memberi panduan kepada dokter pada saat
melakukan biopsi ginjal.
5. Biopsi ginjal.
Untuk mendeteksi seberapa jauh kerusakan ginjal, dilakukan biopsi ginjal.
Caranya, mngambil sebagian sel ginjal untuk diteliti. Melalui cara ini bisa
ditemukan seberapa parah kerusakan ginjal sehingga bisa ditentukan pengobatan yang
tepat.
Biopsi ginjal mengharuskan pasien untuk menginap di rumah sakit. Biopsi biasanya
dilakukan dengan cara memasukkan jarum menembus kulit dipinggang bagian
belakang dan mengambil sepotong kecil ginjal.
Kesimpulan :
Akibat lain yang ditimbulkan dari nefritis lupus yang terjadi pada beberapa pasien nefritis lupus adalah “hilangnya fungsi ginjal” secara progresif atau terjadinya “gagal ginjal”. Pada kondisi semacam ini untuk mendukung penggunaan fungsi ginjal dapat dilakukan melalui penggunaan alat cuci darah tiruan .
Pada Jantung dan Paru :
Penderita akan merasakan gangguan pernafasan, ini muncul akibat terjadinya peradangan selaput yang membungkus paru-paru dan jantung sehingga menyebabkan terjadinya sesak nafas atau jantung terasa berdebar-debar
Terjadi pengumpulan cairan di dalam rongga selaput paru atau jantung .
Gangguan irama jantung, denyut nadi cepat.
Radang otot jantung.
Gagal Jantung.
Perdarahan paru / batuk darah.
Rentang derajat keterlibatan serangan terhadap jantung dan paru-paru ini dapat mengancam jiwa si pasien Lupus. Kenyataannya, serangan jantung merupakan peringkat ketiga dari penyebab kematian bagi pasien Lupus.
Jantung
Serangan Lupus dapat mempengaruhi seluruh bagian dari jantung, termasuk kantung/selaput yang mengelilingi jantung, lapisan otot jantung, lapisan di bagian dalam jantung dan pembuluh koroner/jantung.
Kantung/selaput yang mengelilingi jantung
Merupakan penyakit yang biasanya terjadi pada jantung pasien pengidap lupus. Hal
ini terjadi saat lapisan pericardium diserang oleh auto-antibodi dan terjadi radang.
Gejala yang sering terjadi, yaitu rasa sakit yang sangat pada dada kiri di bagian bawah
tulang dada, demam,detak jantung terasa cepat dan kadang bernafas pendek-pendek.
Rasa sakit dapat berubah dengan mengubah posisi badan. Biasanya rasa sakit akan
berkurang dengan mencondongkan badan agak ke depan. Rasa sakit di dada tersebut
rasanya mirip seperti terkena serangan jantung. Dalam kasus pericardium, pasien
tidak mempunyai gejala apapun. Pemeriksaan darah, rontgen dada, EKG
(electrocardium) dan electrodiogram yang dapat membantu untuk melakukan
diagnosis pericarditis. Electrodiogram adalah ultrasound dari jantung dari hasil
pemeriksaan ini dokter dapat mengetahui apabila terdapat cairan disekeliling jantung.
Pada pasien Lupus, tidak biasanya ditemukan jumlah cairan yang berlebihan
disekeliling jantung.
Paru
Lupus juga dapat menyerang bagian paru-paru dengan berbagai cara. Radang selaput dada (pleurisy) biasanya merupakan perwujudan terlibatnya paru-paru pada SLE. Pleura adalah selaput yang berada diantara bagian luar paru-paru dan bagian dalam rongga dada. Selaput tersebut memproduksi cairan secukupnya yang berfungsi melumasi ruang diantara paru-paru dan dinding dada. Apabila selaput ini diserang oleh autoantibodi dan terjadi peradangan – disebut pleuritis atau pleurisy. Kadangkala jumlah cairan yang berlebihan dapat terakumulasi di dalam ruang pleural. Hal ini disebut pleral efusion dan terjadinya tidak sesering pleuritis.
Apabila efusi cukup banyak, efusi tersebut dapat terlihat pada hasil rontgen dada.
Gejala dari pleuritis (radang selaput dada) adalah rasa berat (severe) seperti rasa ditusuk pisau, rasa sakit yang menusuk terjadi pada daerah tertentu di bagian dada. Rasa sakit kadang bertambah pada saat menarik nafas dalam-dalam, pada saat batuk, bersin atau tertawa. Obat-obatan analgesik (penghilang rasa sakit), anti radang non-steroid , dengan atau tanpa kortikosteroid dapat digunakan untuk mengobati pleuritis. Pleural efusion biasanya berkurang dengan pengobatan tersebut atau akan hilang dengan sendirinya bersamaan waktu.
Radang paru ( Pneumonitis ) adalah peradangan yang terjadi dalam jaringan paru yang bisa disebabkan oleh infeksi atau oleh lupus.
Infeksi sering menjadi penyebab pneumonitis pada pasien Lupus. Infeksi tersebut dapat disebabkan oleh organisme seperti bakteri, virus dan jamur/protozoa. Kadang pneumonitis bisa terjadi tanpa infeksi (pneumonitis non infeksi). Gejala pneumonitis adalah demam, sakit dibangian dada dan nafas pendek. Untuk memastikannya pasien dapat melakukan pemeriksaan darah, sputum (ludah atau dahak) dan rontgen untuk memastikan diagnosa pnemonitis. Sedangkan Bronchoscopy atau biopsi paru juga bisa dilakukan untuk menentukan benar/tidaknya infeksi sebagai pencetus pneumonitis. Pengobatan awal, pneumonitis diawali dengan penggunaan obat antibiotik.
Penyakit paru kronik yang berhubungan dengan kemampuan menyerap oksigen (chonic diffuse interstitial lung disease) adalah kelainan yang biasanya terjadi pada SLE. Penyakit tersebut adalah bentuk kronik dari lupus pneumonitis. Gejalanya adalah serangan berangsur-angsur sampai kronik, batuk yang tidak produktif, rasa sakit di dada seperti pleuritis dan rasa sulit bernafas pada saat melakukan aktivitas fisik. Lupus pneumonitis kronik dapat mengakibatkan bekas luka atau parut pada paru-paru dan menurunkan kemampuan menyuplai oksigen ke dalam darah. Parut pada jaringan paru dalam menghambat oksigen untuk mudah menyerap secara normal (diffuses) dari paru-paru ke dalam darah.
Tingkat keparahan serta aktivitas dari penyakit kronik ini dapat diukur dan diikuti dengan tes fungsi paru-paru (tes pernafasan). Kapasitas sebaran oksigen (difusi) pada paru-paru merupakan ukuran mudah atau sulitnya pergerakan oksigen dari paru-paru ke aliran darah. Kemampuan ini umumnya berkurang pada pasien Lupus pneumonitis kronik. Pengukuran secara periodik dari kapasitas sebaran dapat mengidentifikasikan respon terhadap pengobatan dn memungkinkan dokter mengikuti perkembangan penyakit tersebut.
Keimpulan :
Terserangnya paru-paru pada lupus adalah hal biasa. Pleuritis (radang selaput dada) dan infeksi adalah kondisi yang sering terjadi pada paru-paru. Pneumonitis (radang paru-paru) pada penderita lupus biasanya disebabkan oleh infeksi, akan tetapi bakteri atau virus juga sering menjadi penyebab. Semua pasien Lupus yang mengalami serangan batuk secara tiba-tiba atau rasa sakit di dada seperti pleuritis harus segera memberitahukan dokternya.
Pada umumnya masalah jantung- paru berkaitan dengan lupus akan cepat beraksi terhadap pengobatan. Akan tetapi harus ditindak lanjuti secara seksama, cepat dan akurat diagnosanya terhadap masalah serta pengobatan yang agresif untuk mengurangi kerusakan pada organ tubuh adalah sangat penting bagi suksesnya pengendalian penyakit jantung dan paru-paru pada lupus.
Pada Syaraf :
- Susunan Syaraf Pusat :
Kejang, sawan ( epilepsi ), gangguan jiwa ( psikosis ).
Kelumpuhan anggota gerak tubuh sebelah ( stroke ).
Radang selaput otak.
Radang pada sumsum tulang belakang.
- Susunan Syaraf Tepi :
Gangguan rasa raba.
Kelemahan gangguan otot akibat gangguan syaraf.
- Syaraf Otonom
Bagaimana cara lupus mempengaruhi sistem syaraf ?
Sistem syaraf memerlukan aliran darah yang terus menerus ke jaringan untuk menyediakan oksigen and nutrisi yang diperlukan agar tetap berfungsi secara normal. Nutrisi dan oksigen dikirimkan melalui pembuluh darah dan memberi makan ke otak, urat syaraf tulang belakang dan syaraf sendiri. Jika aliran terlambat atau terputus, sel-sel syaraf akan terluka (injured) sehingga tidak mampu berfungsi secara normal.
Gejalanya :
1. Tidak berfungsinya kesadaran (cognitive dysfunction)
Pada 50% pasien lupus tergambar perasaan bingung, lelah, kerusakan memori dan
kesulitan dalam menyatakan pikiran mereka. Kumpulan dari gejala-gejala tersebut
disebut “tidak bekerjanya fungsinya pengenalan/kesadaran – cognitive dysfunction”.
2. Sakit kepala lupus.
Sakit kepala lupus dapat diobati seperti mengobati sakit kepala yang disebabkan
tekanan darah atau migran, terapi obat corticosteroid sangat membantu pasien.
3. Sindrom antiphospholipid.
Sepertiga dari penderita lupus mempunyai hasil penelitian spilis positip yang palsu,
positip anticardiolipin atau prolonged clotting time test (pemeriksaan waktu
penggumpalan yang berlangsung lama) yang disebut PTT – hal ini disebut sebagai
lupus anticoagulant atau antiphospholipid antibodi.
4. Sindrom organ otak (organic brain syndrome).
Penderita lupus dengan sejarah stroke atau vasculitis akan mengalami kerusakan
pada otak yang berganti dengan jaringan berparut — ini merupakan serangan
mendadak yang berupa kesulitan menggerakkan otot, ingatan, konsentrasi dan
orientasi. Pasien Lupus yang mengalami sindrom organ otak dan biasanya tidak
terdapat bukti yang memperlihatkan aktivitas lupus di dalam darah atau sumsum
tulang belakang. Pengobatan dengan steroid akan memperburuk gejala yang ada.
Sindrom otak dapat diobati dengan dukungan emosional.
5. Fibromyalgia (sindrom fibrositis).
20% pasien Lupus mengalami sindrom fibromyalgia (fibrositis) berlanjut yang
diwujudkan dengan titik-titik lembut (tender points) dan meningkatnya rasa sakit
pada jaringan lunak. Pasien mengalami menurunnya kemampuan untuk
berkonsentrasi , susah tidur dan tidak memiliki stamina. Sindrom ini dapat diobati
dengan obat-obat anti depressan, konsultasi dengan psikiater dan terapi fisik jika
diperlukan.
Pemeriksaan diagnosa Syaraf yang ada saat ini adalah dengan scan otak CT, MRI (magnetic resonance
imaging), gelombang otak EEG (electroencephalogram) dan pengambilan sumsum tulang belakang.
Bagaimana dokter mengevaluasi gejala pada sistem syaraf ?
Apabila tubuh Anda mengalami gejalap-gejala sistem syaraf seperti disebut diatas, segera beritahukan dokter Anda. Sebab, sebab-sebab munculnya gejala-gejala tersebut bisa saja karena kondisi di luar Lupus (misal pengaruh obat atau pola hidup yang tidak baik). Langkah penanganan awal yang perlu Anda lakukan adalah konsultasi dengan dokter, pemeriksan badan dan laboratorium (untuk mengetahui dengan tepat susunan kimiawi, jumlah unsur darah dan urinalysis). Proses diagnosa sistem syaraf sangat susah karena tidak adanya “tes khusus” untuk mengetahui keterlibatan sistem syaraf oleh Lupus.
Kesimpulan :
Pengobatan sistem syaraf lupus tergantung dari sumber gejalanya. Pengobatan dapat menggunakan steroid, immunosppresant, pengencer darah, antibiotik, anti convulsant, anti depresi, konsultasi dengan psikiater atau operasi pembedahan. Pada banyak pasien Lupus, keterlibatan sistem syaraf tidak bisa disembuhkan sama sekali.
Pada Kulit :
Ruam – ruam merah melintang pada kedua pipi dan hidung
Bercak – bercak merah bentuknya seperti uang logam bisa tampak rata atau timbul.
Kadang bersisik dan terasa gatal.
Bercak – bercak ini dapat muncul di bagian kulit mana saja ( muka , kaki , tangan, perut, dada, punggung , kepala).
Pada gejala semacam ini, penderita akan sangat rentan terhadap sinar matahari.
Terkena sinar matahari saja akan menyebabkan kulit memerah seperti luka terbakar matahari.
Penyakit kulit sering kali dialami penderita lupus erythematosus. Ruam dan luka pada kulit pasien SLE dapat di bagi dalam ruang dan luka kulit yang spesifik lupus serta yang terjadi karena penyakit selain lupus. Ada dua luka spesifik yang berkaitan dengan SLE, yaitu :
1. Luka diskoid
Istilah discoid secara harafiah adalah berbentuk koin. Luka parut berbentuk koin,
biasanya terlihat pada daerah dimana kulit terkena langsung cahaya (diberi istilah
discoid lupus erythematosus). Seorang dokter tidak dapat menentukan, apakah ya atau
tidak – luka diskoid lupus terjadi pada keberadaan atau ketidakberadaan gambaran
sistemik hanya dengan memeriksa bentuk/ukuran dari luka.
Lalu apa hubungan antara diskoid lupus dan systemic lupus erythematosus? Lupus
erythematosus sebaiknya dilihat sebagai rangkaian kesatuan dari spektrum (aneka
warna) penyakit. Pada ujung spektrum, kebanyakan luka dicirikan dengan luka kulit
berparut berbentuk coin yang diberi istilah luka diskoid. Sedangkan pada ujung lain
dari spektrum, yaitu penderita lupus yang tidak mempunyai luka kulit, tapi memiliki
gambaran sistemik (misalnya radang sendi atau sakit pada ginjal).
Pada seseorang yang memiliki luka diskoid, tanpa gambaran sistemik — umumnya
tidak memiliki auto-antibodi dalam serum darah mereka. Sedangkan bagi pasien
Lupus SLE dicirikan dengan adanya satu jenis atau lebih auto antibodi di dalam darah
mereka. Dari hasil penelitiannya bahwa diantara 5% sampai 10%
pasien Lupus memperlihatkan luka discoid lupus berbentuk koin yang kemudian
berkembang menjadi sistemik. Berdasarkan penelitian bahwa, suatu saat proses
penyakit lupus bergerak dinamis seiring waktu, sejumlah kecil pasien Lupus yang
memiliki luka diskoid tersebut pada akhirnya berkembang menjadi luka sistemik.
2. Luka kutenus sub-akut (subacute cutaneous lesions)
Jenis luka spesifik ini ditemukan oleh Sonthiemer dan Gilliam pada akhir tahun 70-an.
Ciri-ciri luka ini tidak berparut, erythematosus (berwarna merah) berbentuk koin yang
sangat sensitif terhadap sengatan matahari (akan bertambah parah jika terkena sinar
ultraviolet). Jenis luka seperti ini berciri cutaneous lupus sub akut – bisa terjadi
penderita lupus. Luka cutaneous lupus sub akut kadangkala dapat menyerupai luka
psoriaris (semacam penyakit kulit yang kronis) atau berupa luka tidak berparut
berentuk koin. Luka seperti ini dapat terjadi di wajah dalam pola kupu-kupu atau
dapat mencakup area yang luas di tubuh. Tidak seperti luka diskoid lupus, luka
cutaneous lupus sub akut tidak menyebabkan parut tapi dapat menjadi masalah
kosmetis utama yang signifikan.
Yang tidak spesifik :Rambut rontok
Luka yang tidak spesifik lupus antara lain : rambut akan mengalami kerontokan
(alopecia) yang tidak berkaitan dengan luka discoid lupus di kulit kepala. Penderita
sistemik lupus yang penyakitnya parah mungkin akan mengalami kebotakan. Akibat
serangan SLE yang parah dapat mengganggu pertumbuhan rambut dan
menyebabkannya menjadi rapuh dan gampang rusak. Rusaknya rambut, khususnya di
bagian tepi kulit kepala akan memberikan ciri penampakan- yang disebut “rambut
lupus”, tetapi kelak rambut ini secepatnya tergantikan oleh rambut baru.
Vaskulitis
Pada pasien SLE juga bisa berkembang menjadi penyakit radang pembuluh darah
(vasculitis). Luka vasculitis bisa berupa bilur berwarna merah yang melibatkan area
yang luas di tubuh. Luka seperti ini juga dapat muncul berupa garis kecil berwarna
merah pada ujung lipatan kuku di ujung jari atau berupa jendul merah di kaki yang
dapat menjadi borok.
Photosensitivity (peka terhadap sinar matahari)
Kepekaan terhadap cahaya merupakan gambaran umum dari lupus erythematosus.
Sekitar 40% sampai 70% pasien Lupus akan mendapati bahwa proses penyakit
mereka termasuk penyakit kulit akan bertambah buruk bila terkena cahaya matahari.
Pengobatan
Pengobatan penyakit kulit pada lupus erythematosus dapat menggunakan cream steroid, plester steroid untuk menutup luka lupus atau dengan suntikan steroid dosis Sedangkan luka lupus yang menyebar luas seringkali diobati dengan menggunakan hidroksikhloroquin(plaquenil) atau dikombinasi dengan menggunakan steroid oral dosis tinggi yang diberikan untuk waktu yang singkat. Krem pelindung matahari digunakan untuk mencegah luka kulit lupus. Karena itu pasien Lupus sebaiknya menghindar dari terkena cahaya matahari secara langsung dalam waktu lama.
Kesimpulan :
Perlu diingat : adakalanya luka diskoid lupus muncul di kulit kepala yang dapat mengakibatkan “kebotakan” berparut di tempat tersebut (atau istilahnya alopecia). Yang kemudian luka diskoid ini akan menjalar ke bagian tengah dari wajah dan hidung yang berbentuk ruam kupu-kupu. Jenis lupus seperti itu mempunyai implikasi kosmetik yang signifikan — maksudnya luka diskoid lupus akan menebal, bersisik atau luka . Berdasarkan hasil penelitian saat ini, luka diskoid lupus merupakan hasil dari proses
peradangan di dalam kulit dimana kelenjar getah bening pasien (utamanya sel T) memegang peranan utama. Hal ini berlawanan dengan systemic lupus erythematosus, dimana formasi auto-antibodi dan immune complex bertanggung jawab terhadap banyak gejala klinis.
Pada Jiwa :
Gangguan alam perasaan : cemas ,depresi.
Gangguan proses berpikir.
Gangguan lain : sakit kepala, pusing, lupa daya ingatan, gangguan mental.
Pada Sendi & Otot :
Rasa sakit pada sendi dan otot adalah gejala yang paling umum pada SLE. Karena pada kenyataannya 90% dari pasien Lupus suatu saat selama terserang penyakit ini mereka akan mengalami rasa sakit di sendi atau otot.
Masalah yang sering dihadapi oleh pasien radang sendi dan otot bermacam-macam
Kadang seringkali, menimbulkan rasa sakit di sendi (arthralgia) dan bagian otot
(myalgia) menyerupai penyakit yang disebabkan oleh virus atau flu. Rasa sakit
lainnya, tidak hanya terasa sakit pada sendi tetapi juga membengkat, hangat dan
lembek. Sedangkan rasa sakit pada radang otot lebih hebat lagi, mengakibatkan
melemah dan hilangnya kekuatan otot secara cepat sebagai penambah terhadap rasa sakit di otot.
Radang Sendi Lupus
Rasa sakit di sendi pada radang sendi lupus bisa terjadi kapan saja. Serangan pada seseorang bisa terjadi selama berhari-hari atau berbulan-bulan tapi setelah itu akan mereda. Sendi-sendi yang jauh dari batang tubuh (contoh jari, pergelangan tangan, siku, lutut dan pergelangan kaki) adalah yang paling sering terkena. Tanda-tandanya biasanya dimulai dengan rasa kaku atau sakit di pagi hari, yang kemudian berlanjut dengan rasa lelah dan rasa sakit tersebut akan kembali menyerang beberapa hari berikutnya.
Ciri lain dari radang sendi lupus adalah bahwa rasa sakit yang timbul biasanya simetris, maksudnya akan mempengaruhi sendi yang sama pada kedua sisi tubuh. Oleh karena itu, rasa sakit dan bengkak kronis hanya akan terjadi pada satu sendi meskipun terjadi pada seseorang yang didiagnosa lupus. Radang sendi lupus tidak selalu disebabkan oleh kelainan bentuk atau kerusakan pada sendi. Tidak adanya kerusakan pada sendi ini dapat diamati (secara klinis) maupun melalui rontgen.
Diagnosa
Pola dari rasa sakit di sendi dengan keadaan riwayat pasien dapat dijadikan sebagai petunjuk terbaik dalam menentukan jika rasa sakit itu disebabkan oleh SLE atau bukan. Biasanya hasil rontgen sendi yang terasa sakit pada penderita radang sendi lupus umumnya normal. Pada kenyataannya, apabila hanya radang sendi yang menjadi gejala lupus, pemberian diagnosa akan sangat sulit – dalam kasus ini perlu dilakukan pemeriksaan yang cermat dan penilaian kembali dari dokter terhadap gejala SLE lain yang mungkin akan berkembang dalam membuat diagnosa baru.
Pemeriksaan laboratorium seperti : pemeriksaan anti-nuclear antibody (ANA) serta pemeriksaan terhadap faktor rematik dapat membantu. Paling tidak 76% orang biasa (bukan penderita lupus) akan memiliki antiibodi (faktor rematik) dalam darah mereka. Paling tidak 95% penderita SLE akan memiliki berbagai bentuk antibodi lain (yaitu ANA) di dalam darah mereka. Tetapi perlu ditegaskan disini : bahwa tidak ada satupun dari antibodi tersebut yang spesifik bagi radang sendi rematik ataupun SLE.
Pengobatan
Radang sendi pada lupus dapat diobati dengan obat-obat anti radang non steroid (NSAIDs) seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen. Obat-obatan ini efektif digunakan pada sebagian besar kasus dan umumnya dapat ditolerir oleh penderita. Namun, jika obat-obatan ini tidak efektif, dapat digunakan obat-obatan anti malaria seperti hidroksikloroquin(plaqueni).
Sedangkan terapi obat kortikosteroid (prednisone) jarang digunakan dan akan digunakan hanya jika sendi-sendi tetap bengkak dan terasa sakit meskipun telah dilakukan pengobatan lain. Namun yang tak kalah penting bagi pasien Lupus yang mengalami radang sendi lupus, mereka harus belajar “mengisitirahatkan” sendi-sendi tersebut selama serangan radang sendi lupus dengan tidak melakukan gerakan-gerakan yang dapat menambah rasa sakit.
Radang Otot (myositis) lupus
Gejala rasa sakitnya tidak seperti pada radang sendi. Rasa sakit pada radang otot justru bisa mengalami kerusakan yang parah akibat SLE. Kerusakan ini disebabkan oleh rasa lemah dan hilangnya kekuatan otot, kecuali pasien secepatnya diberi pengobatan yang tepat. Radang otot lupus tidak hanya memberi rasa sakit, tetapi juga akan terasa lembek bila disentuh. Lemah otot ini merupakan gejala yang paling sering terjadi pada radang otot (myositis).
Diagnosa
Diagnosa terhadap radang otot SLE bisa dilakukan secara langsung dengan melakukan pemeriksaan pada saat kondisi tidak normal ini. Pemeriksaan seperti ini dapat digunakan untuk menentukan parahnya kondisi otot yang terlibat : semakin tinggi level enzim tersebut di dalam darah — maka semakin parah pula radang otot.
Pemeriksaan dapat dilakukan melalui EMG (electromyogram) – untuk menentukan ciri-ciri kerusakan otot pada radang otot lupus. Apabila memang terjadi radang — hasil EMG akan memperlihatkan pola khas dari tanggapan elektris. Sedangkan pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop terhadap jaringan otot (biopsy) yang diambil dari otot yang terasa sakit dapat dilakukan untuk mengkonfirmasikan keberadaan radang dan membantu mengindentifikasi parahnya radang otot tersebut.
Pengobatan
Terapi obat kortikosteroid juga bisa diberikan untuk mengobati radang otot lupus dengan menggunakan dosis tinggi atau menggunakan pengobatan prednisone atau sejenisnya per hari – sebagai permulaan, dengan tujuan untuk menekan dan mengendalikan radang secepatnya. Pemakaian dosis steroid secara bertahap dapat dikurangi sepanjang radang otot telah mereda. Sebagian besar pasien Lupus menanggapi terapi pengobatan ini secara cepat dan baik terhadap penggunaan steroid . Setelah fase peradangan akut, pasien radang otot lupus perlu diberikan program latihan olah raga yang terarah dan benar yang bertujuan untuk membantu pasien memperoleh kembali kekuatan dan fungsi otot yang normal.
Kesimpulan :
Karena itu bagi pasien Lupus, program latihan olah raga perlu dirancang secara rutin untuk membantu mencegah terjadinya lemah otot pada penderita radang otot lupus.
Pada Mata :
vasculitis yang melibatkan pembuluh darah kecil pada retina dapat terjadi
pada lupus. Retina adalah jaringan yang berada di bagian belakang mata yang mengandung sel-sel yang harus diaktifkan untuk membentuk gambaran pengelihatan.
Vasculitis di mata tidak menyebabkan gejala apapun. Biasanya ditandai dengan
pengelihatan menjadi buram yang terjadi secara tiba-tiba dan kadang menetap
menjadi buta.
Pada Darah :
Hematologist adalah spesialis dalam kelainan darah yang sangat membantu dalam pengelolaan medis terhadap pasien SLE. Pada umumnya, jarang terjadi tanda-tanda awal lupus muncul di dalam darah. Tetapi pada beberapa pasien Lupus, kelainan darah merupakan gejala utama. Gejala kelainan darah utama pada SLE adalah anemia, thrombocytopenia (rendahnya jumlah keping darah/platelet), gangguan pembekuan dan rendahnya jumlah sel darah putih.
Anemia
Ketidak normalan darah paling sering terjadi pada SLE adalah anemia, yaitu berkurangnya jumlah sel darah merah. Anemia diketahui pada setiap pemeriksaan : hematokrit, konsentrasi hemoglobin dalam darah atau jumlah sel darah merah. Umumnya, sekitar separuh dari pasien dengan Lupus aktif mengalami anemia. Parah atau tidaknya sebanding dengan tingkat aktivitas lupus pada penderita. Kelelahan dan perasaan menderita pada pasien dengan lupus aktif merupakan tanda-tanda dari anemia. Kekurangan zat besi juga merupakan penyebab umum lainnya dari anemia – terjadi karena kekurangan darah dari dalam tubuh.
Anemia hemolitik pada pasien Lupus terjadi karena antibodi langsung berlawanan dengan sel-sel darah merah. Hal ini disebut “autoimmune hemolytic anemia” — pada kondisi ini auto antibodi berinteraksi dengan sel-sel darah merah yang menyebabkan sel-sel tersebut dimusnahkan di dalam limpa atau hati oleh “sel-sel pemakan bangkai (macrophages)”.
Steroid seperti prednisone biasanya efektif dalam pengobatan anemia jenis ini. Namun pada beberapa pasien Lupus tidak bereaksi terhadap pengobatan jenis ini,sehingga
membutuhkan pembedahan untuk mengangkat limpa- nya (splenectomy), jika anemia-nya parah, transfusi darah mungkin diperlukan.
Rendahnya jumlah kepingan darah (Thrombocytopenia)
yaitu kepingan darah atau platelet (thrombocytes) adalah partikel kecil di dalam darah yang berguna untuk pembekuan darah. Kekurangan kepingan darah disebut trombositopenia, kondisi ini dapat mengarah kepada lebam berlebihan pada kulit dan pendarahan dari gusi, hidung atau bagian dalam perut . Masih banyak kasus trombositopenia , oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan terhadap sum-sum tulang untuk memperjelas hasil diagnosa. Pemeriksaan sum-sum tulang umumnya dilakukan dengan mengambil contoh sum-sum tulang dengan menggunakan jarum.
Penyebab trombositopenia yang paling sering terjadi pada pasien Lupus adalah “imun trombositopenia” atau biasa di kenal dengan “ITP”. Kondisi ini disebabkan karena antibodi berlawanan dengan keping darah atau antibodi merusak keping darah. Terjadinya ITP banyak dialami pasien Lupus, bahkan dianggap sebagai gejala lupus satu-satunya.
Pada kasus yang (jarang terjadi), ITP dan auto imun hemolitik anemia muncul
bersamaan. ITP biasanya diobati dengan steroid (prednisone) tetapi pada beberapa kasus
spllenektomi (bedah untuk mengangkat limpa) mungkin diperlukan.
Pada kasus kehamilan, anti platelet antibodi dapat menyeberangi plasenta kemudian
memasuki janin dan mengakibatkan trombositopenia.
Lupus anti-coagulant (gangguan pembekuan)
Pada beberapa pasien SLE – tubuh yang menghasilkan antibodi berdampak pada
pemeriksaan pembekuan darah atau disebut partial tromboplastin time (PTT). Antibodi ini disebut “lupus anti coagulant”. Istilah coagulant biasanya menunjuk ke suatu bahan/zat yang bercampur dengan mekanisme pembekuan darah yang normal dan merupakan hasil dari pendarahan yang tidak normal atau parah.
Lupus anti coagulant hampir tidak pernah dikaitkan dengan pendarahan yang tidak normal, bahkan ketika terluka atau pembedahan. Pada beberapa pasien dengan lupus anti coagulant cenderung terbentuk ketidak normalan pembekuan darah, khususnya pada vena – yang merupakan hasil dari kondisi tersebut disebut “venous thrombosis”. Venous
thrombosis perlu diobati dengan obat-obat anti-coagulant seperti : heparin dan coumadin, terutama dalam kasus yang berkaitan dengan pulmonary embolus. Pulmonary embolus
adalah suatu kondisi dimana serpihan dari pembekuan di vena memasuki sirkulasi dan tinggal di paru-paru. Lupus anti-coagulant diketahui pada kasus keguguran yang berulang.
Rendahnya jumlah sel darah putih
Pada SLE, salah satu dari dua jenis utama sel darah putih yaitu : granulocytes dan
lymphocytes (mungkin akan berkurang) yang menyebabkan terjadinya granulocytopenia
(jumlah granulosit rendah) dan limpositopenia (jumlah limfosit rendah). Namun,
ketidak normalan ini tidak berbahaya dan tidak menyebabkan terjadinya gejala apapun juga.
Infeksi Pada Lupus:
Sebelum dicapai kemajuan medis dalam mendiagnosa dan pengobatan lupus — banyak penderita lupus menemui ajalnya karena gagal ginjal dan serangan sistem syaraf pusat (central nervous system). Sekarang ini banyak kasus Odapus meninggal karena infeksi dari penyakit sistemik lupus aktif
Pasien Lupus lebih rentan terhadap infeksi dibandingkan dengan orang kebanyakan dengan dua alasan, yaitu :
Lupus secara langsung mempengaruhi sistem kekebalan –sehingga mengurangi kemampuan pasien dalam mencegah dan melawan infeksi.
Pasien Lupus memiliki ketidak normalan dalam sistem kekebalan yang
menyebabkan cenderung berkembangnya infeksi dalam tubuh.
Banyak dari obat-obatan yang digunakan untuk mengobati lupus yang “menekan” fungsi kekebalan – sehingga menjadikan pasien Lupus cenderung terkena infeksi.
Obat-obatan seperti cortisone (prednisone) dan cytotoxic seperti azatthioprine
(Imuran) dan cyclophosphamide (cytoxan) dapat meningkatkan kerentanan pengguna
terhadap infeksi akibat obat-obatan tersebut sehingga menekan “sistem kekebalan”
pada kondisi tubuh yang normal ataupun yang tidak normal.
Jenis-Jenis Infeksi Pada Lupus
Infeksi yang terjadi pada pasien Lupus terdiri dari dari dua golongan. Golongan pertama adalah infeksi yang disebabkan oleh organisme yang dapat menyebabkan infeksi pada penderita lupus dan orang kebanyakan.
Golongan kedua terdiri dari infeksi “oportunistik”, disebabkan oleh organisme yang mampu menyebabkan penyakit hanya jika sistem kekebalan melemah. Kebanyakan infeksi oportunistik disebabkan oleh jamur, parasit atau protozoa.
Infeksi yang sering paling sering terjadi pada pasien Lupus melibatkan saluran pernafasan, kulit dan saluran kemih. Setiap penderita lupus yang mengalami demam sebaiknya dievaluasi secara menyeluruh. Khususnya jika pasien menggunakan aspirin, obat-obat anti radang non-steroid (misalnya : Advil, Naprosyn) atau steroid yang dapat menurunkan suhu tubuh. Bagi pasien yang mengalami infeksi yang dapat mengancam jiwa tapi tidak diketahui sumber infeksinya, sebaiknya di rawat inap untuk dilakukan pemeriksaan untuk membantu mempercepat diagnosa.
Vasculitis Pada Lupus:
Pengertian Vasculitis
Vasculitis adalah radang yang terjadi pada pembuluh darah. Radang di sini adalah suatu kondisi dimana jaringan pembuluh darah dirusak oleh sel-sel darah yang memasukinya. Sel-sel darah tersebut kebanyakan adalah sel-sel darah putih yang bersirkulasi dan menjalankan tugas sebagai pertahanan utama kita melawan infeksi. Biasanya sel-sel darah putih akan menghancurkan bakteri atau virus. Akan tetapi mereka juga dapat merusak jaringan normal jika mereka menyerang. Vasculitis juga dapat mempengaruhi pembuluh darah yang sangat kecil (kapiler), pembuluh darah ukuran menengah (arterioles atau venules), atau pembuluh darah yang besar (arteri/vena).
Beberapa hal yang terjadi pada pembuluh darah yang mengalami radang. Jika radang terjadi pada pembuluh darah kecil, maka akan pecah dan menghasilkan area kecil pendarahan di dalam jaringan. Pada area ini akan muncul seperti noda kecil berwarna merah atau unggu di atas kulit. Tetapi, jika radang terjadi pada pembuluh darah besar, maka akan terjadi pembengkakan dan menghasilkan noda yang akan terlihat jika pembuluh tersebut berada di dekat permukaan kulit. Bagian dalam dari tabung pembuluh darah akan menjadi sempit sehingga aliran darah berkurang atau bahkan tertutup total (akibat adanya darah beku yang terbentuk pada tempat peradangan). Jika aliran darah berkurang atau berhenti, jaringan yang menerima darah dari pembuluh tersebut akan mati. Contohnya seseorang dengan vasculitis pada arteri ukuran sedang di bagian tangannya (jari-jarinya) akan menjadi dingin (cold finger) dan terasa sakit jika digerakkan – hal ini bisa berkembang menjadi gangrene.
Konsultasi ke dokter
Jika Anda mengalami vasculitis sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Ingat : vasculitis bisa sangat ringan bisa sangat parah atau mengancam jiwa.
Diagnosa Vasculitis
Diagnosa vasculitis bisa didapat berdasarkan catatan kesehatan pasien untuk melihat gejala-gejala yang ada, pengujian fisk secara lengkap serta hasil pemeriksaan laboratorium. Ketidak normalan pada darah dapat terjadi apabila vasculitis muncul adalah terlihat dari naiknya tingkat pengendapan darah, anemia serta jumlah darah putih dan keping darah (platet) yang tinggi. Pemeriksaan darah digunakan untuk mengenali immune complexes atau antibodi dalam sirkulasi darah yang menyebabkan vasculitis dan mengukur tingkat complement normal atau tidak, selain itu dokter juga akan melakukan analisa air seni (urine).
Kesimpulan :
Ada beberapa akibat yang di derita dari vasculitis. Pada banyak pasien, vasculitis terbatas pada kulit (pada kasus vasculitis pada lupus tidak mengancam jiwa).
Sedangkan bagi pasien vasculitis yang parah (menyerang organ utama) biasanya menyebabkan cacat secara permanen. Umumnya, pasien vasculitis dapat menghilang, tetapi akan muncul lagi nanti dan memerlukan pengobatan lagi